Kematian tak pernah diam

Kematian Tak Dernah Diam

Oleh: Ali Ridho_ KDL

Pada mulanya, kita hanyalah sebuah cairan yang keji, yang berasal dari sebuah pertemuan antar lawan jenis hingga cairan itu menjelma sebuah janin, dan janin itulah yang merupakan benih manusia yang nantinya bertranformasi menjadi manusia sungguhan; yang memiliki kesempurnaan dibanding dengan makhluk lainnya.

Jalanan Condet masih nampak ramai dengan kendaraan bermotor, asap yang berwarna hitam pekat pun kian mengepul di sepanjang ruas jalan yang kemudian membumbung tinggi ke angkasa. Pagi ini, sebuah angkot warna kuning kemerahan perlahan menyingkir ke pinggiran trotoar. Angkot itu berhenti sejenak mengangkut beberapa orang yang telah lama menunggunya. Seorang kenek angkot itu dengan semangat mengajak orang yang tengah berdiri di trotoar jalan itu dengan diiringi teriakkannya yang memekakkan telinga.

“Kampung Melayu, yo.” teriak kenek itu berkali-kali. Mendengar seruan kenek, Andi seorang pemuda yang mengenakan kaos warna merah dengan dibalut sebuah kemeja kotak-kotak yang tidak dikancingkannya, ia membiarkan kemejanya terbuka hingga nampak kaos merah polosnya, dan sebuah tas selempang ia gantungkan dibagian bahu kirinya. Celana levis dan sepatu merk NB pun menjadi pelengkap gayanya, layaknya model lelaki yang terpampang di majalah remaja. Ia bergegas memasuki angkot yang masih berhenti itu. Setelah dirasa tak ada lagi penumpang, angkot itu seketika melesat dengan kilat dengan meningglkan jejak berupa kepulan asap yang nampak hitam pekat yang menghalangi penglihatan. Rupanya ia tak kebagian kursi duduk sampai ia harus rela berdiri sambil menggantungkan tangannya di sebuah besi yang terpatri di bawah atap angkot. Ia tetap diam sambil sesekali mengedarkan pandang ke arah luar melalui kaca mobil yang telah usang akibat dimakan usia. Di sebuah mall besar yang terletak di kawasan Cililitan ia memberhentikan angkot yang ia naiki. “Kiri, bang.” Ucapnya dengan nada terangkat. Angkot pun berhenti. Dikeluarkannya uang dari saku celananya kemudian ia berikan kepada kenek yang sudah berada di luar mobil tepat di depan pintu angkot.

Ia menyebrang, lalu mengayunkan langkahnya menuju bangunan yang berdiri dengan kokohnya. Ya, ia menuju mall PGC yang dibalut dengan warna cat kuning tua itu.

***

Ia memasuki kafe, lalu menyapa seseorang yang sudah duduk lebih awal di sofa kafe sambil melambaikan tangan kanannya ke arah temannya yang sudah lebih dulu duduk di sofa itu.

“Gue, masih bingung dengan alur kehidupan ini, Rif.” Ucap Andi di sebuah kafe ternama yang berada di dalam Mall itu. “Memangnya apa sih yang lo ragukan dengan kehidupan ini, Ndi? “ tanya Arif sambil sesekali menyesap minuman yang baru saja datang dari pelayan kafe.

“Aku bingung, dengan kematian, Rif. Apa mungkin kematian itu akan menimpaku,?” layaknya anak kecil, ia menanyakan sebuah perkara yang sudah jelas adanya. Dengan pelan Arif sedikit menggerutu “dasar anak kecil” gerutunya.

“Aku masih ingin hidup,Rif. Aku masih ingin menikmati semua fasilitas modern di dunia ini, aku masih pengen merasakan gemerlapnya kenikmtan dunia. Karena gue adalah pecinta dunia. Rif.” Keluh Andi dengan gamang. Mungkin dia tak tau betul akan alur hidup ini.Seolah mindset-nya telah terkontaminasi oleh gemerlap dunia yang menghanyutkan banyak manusia ke samudra kenistaan. Arif yang mendengar keluhan sahabat karibnya itu, Ia tidak langsung menanggapi keluhannya. Tetapi sejenak ia terdiam dengan diiringi gelengan kepalanya yang pelan. Mungkin ia terheran-heran dengan sikap Andi yang masih kekanak-kanakan itu, yang belum memahami betul tentang arti tujuan hidup ini.

“Ndi, sepandai-pandainya lo menghindar dari kematian, kematian itu tak akan diam, menyerah untuk menyergap lo. Artinya semua makhluk Allah itu tak akan bisa berdalih mencari titik aman untuk mengindar dari perkara kematian itu. Lo harus tau itu. Ndi.!” Kata Arif sembari memegang kedua bahunya Andi dengan diiringi sorot matanya yang begitu tajam.

***

Seminggu telah berlalu.

Di sebuah malam, Andi duduk di kursi yang terbuat dari kayu yang berada tepat di pelataran rumahnya. Bintang-gemintang yang terhampar di langit nan luas pun tak lepas dari perhatiannya. Dipandangnya bintang-gemintang itu dengan sorot mata berbinar. Sepertinya ia tengah bekontemplasi tentang perihal penting dalam hidupnya. Tak lama kemudian. Mulutnya terbuka. Ia berkata-kata sendiri. Berkata persis apa yang di katakan Arif sahabat dekatnya seminggu yang silam di sebuah kafe.

“Ndi, sepandai-pandanya lo menghindar dari kematian, kematian itu tak akan diam menyerah untuk menyergap lo. Artinya semua makhluk Allah itu tak akan bisa berdalih mencari titik aman untuk menghindar dari perkara kematian itu. Lo harus tau itu. Ndi.!” Ia berbicara sendiri dengan mengulang kata-kata Arif tempo hari. Ternyata ia masih memikirkan perkara kematian yang ia sangka tak akan menghampirinya. Konyol memang, jika seseorang berpikir kalau-kalau Allah membiarkan makhluknya hidup abadi. Itu artinya tidak ada keadilan dari Allah. Kematian itulah yang menunjukkan bahwa Allah itu maha adil. Jika seandainya memang ada makhlunya yang bisa hidup abadi berarti terjadi kontradiksi antara makhluk dan khaliknya. Artinya ada yang menyaingi Allah, dan tentu, hal ini tidaklah bisa dibenarkan. Pasalnya hanya Allahlah yang layak disebut sebagai dzat yang abadi yang selalu hidup kekal sampai kapan pun, Tidak ada batasan. Dan tak satu pun ciptaannya yang bisa menyaingi sang pencipta.

“Ya Allah, bisakah engaku panjangkan hidupku, sampai aku menjadi makhlukmu yang abadi yang bisa hidup seterusnya agar aku bisa menjelajahi semua kenikmatan dunia ini” pintanya dalam doa di malam itu. Ia larut dalam perenungan kematian yang belum sampai pada titik kesimpulan yang pasti, hingga perlahan matanya mulai berkedip-kedip menandakan bahwa ia mulai mengantuk. tiupan angin malam yang menyapu sekujur tubuhnya seolah mengantarkan sebuah obat tidur untuknya, sampai-sampai tak kuasa ia menahan kantuk yang kian mendara. Perlahan matanya mulai terpejam dan ia tertudur dalam kegamanagan. Ia tertidur pulas.

Keesokan harinya.

Kedua sahabat karib itu kembali bertemu, masih membahas tema yang dibicarakan seminggu yang silam di kafe.

“Aku takut dengan kematian, Rif.” Ujaarnya di sebuah kantin kampus.

“Seperti yang sudah gue katakan dalam pertemuan seminggu yang lalau. Sepandai-pandainya lo menghindar dari kematiann lo pasti akan dikejar. Karena kematian itu perkara yang pasti terjadi dalam hidup ini. Jadi, lo jangan konyol gitu deh.” Kemudian Arif menyambung lagi. “Di sepanjang kehidupan gue, gue baru nemuin orang konyol seperti lo. Yang menginginkan hidup abadi. nggak mau mati. Lo tuh aneh tau nggak.!?” Cibir Arif. Di tengah-tengah suasana kantin yang ramai dari para mahasiswa dan mahasiswi yang tengah beristirahat sambil diiringi sendau gurau yang menghasilkan sebuah tawa hingga menyelinap di setiap sudut kantin. Andi terdiam dan tertunduk di hadapan Arif yang masih tenang mengemil stik yang tersedia di sebuah piring.

“Kayaknya lo perlu melakukan perenungan, Ndi. Supaya lo bisa sadar kalau lo juga bakal mati.” Saran Arif agak sedikit menyunggingkan senyum di bibirnya. Sementara, Andi masih saja terdiam, tak sepatah kata pun yang sempat keluar dari mulutnya.

“Ya sudah, gue cabut dulu ya.!” Dengan rona wajah murungnya Sekonyong-konyong Andi meninggalkan Arif sendirian di kantin. Ia melesat dengan cepat sampai tak terlihat lagi di mata Arif. ia tertelan di antara lalu lalang para mahasiswa di kampus itu. Entah mengapa ia pergi begitu saja tanpa diringi dengan sebuah kata pamit yang biasa ia ucapkan di kala ingin berpisah dengan setiap sahabatnya, termasuk Arif.

“Taksi.!” Andi menghentikan taksi warna biru lalu ia masuk ke dalamnya hingga taksi yang ia naiki melesat jauh di tengah keramaian hiruk pikuk jalanan kota Jakarta.

Brakk…!!

Banyak orang yang berlarian, menuju tempat kecelakaan yang baru saja terjadi antara mobil taksi dan truk. Kedua mobil itu beradu hingga mengeluarkan suara yang amat keras. Tak sedikit sekolompok orang yang mengerubuti tempat lokasi kejadian itu guna sekedar menyaksikan gerangan apa yang tengah terjadi.

Terlihat dari kejauhan, kepala mobil truk nampak ringsek, kaca depannya pun pecah sampai tak tersisa lagi, yang tersisa hanyalah bekas pecahan kaca yang serupa dengan debu yang tertumpah di jalanan itu, sementara, mobil taksi warna biru itu juga tak kalah parahnya. Artinya, tak lagi terlihat bentuk mobil secara sempurna. Taksi itu bak mobil yang di hujani batu besar hingga ringsek di setiap bodinya. Mendengar kejadian tersebut, sekelompok polisi pun siap tanggap menuju lokasi kejadian. Sesampai di sana, polisi itu membentangkan sebuah kain warna kuning sebagai pembatasan untuk tidak dikerubuti banyak orang. Kemudian mobil ambulan pun menyusul kedatangan polisi. Satu demi satu petugas ambulan mengevakuasi penumpang yang masih berada di dalamnya. Dan sungguh nahas kejadian ini. Lantaran tak satu pun penumpang yang masih hidup. Bahkan semuanya tak terselamatkan, semua penumpang meninggal dunia.

***

Kring, kring…

Arif yang sedang berada di depan mesin ketiknya. Tiba-tiba handpone miliknya yang ada di meja belajarnya berbunyi dengan nyaring. Diambilnya handpone itu. Rupanya ada pesan masuk dari sahabatnya bernama Reza. Tanpa basa-basi dibacanya pesan singkat itu dengan saksama:

Assalamualaikum.

Rif, ada kabar buruk buat kita semua. Andi meninggal, Rif. Dia meninggal akibat kecelakaan antara taksi yang dia naiki dengan sebuah truk pengangkut barang, semua itu terjadi kemarin, Rif.

Wasalam..

Bagai duri yang menusuk hatinya secara bertubi-tubi. Ia masih tak percaya dengan kabar itu. “secepat itukah lo pergi ninggalin gue untuk selamanya. Ndi.?” Tanyanya dalam hati. Diletakkannya handpone itu di atas meja belajarnya. Dalam-dalam ia menarik napas lalu secara perlahan ia hembuskan. Dan itu adalah cara yang biasa ia lakukan untuk mengusir kegelisahan yang kian menjadi-jadi begitu dahsyat dalam dirinya.

Lo, orang yang begitu takut dengan kematian, bahkan lo nggak mau mati. Tapi sayang lo tak bisa menghindar dari kematian. Buktinya, kematian itu kini menyergap lo di waktu dan tempat yang nggak terduga.” Kata Arif, ia berbicara sendiri di depan komputernya. Sebuah cairan bening pun tak kuasa ia bendung. Hingga akhirnya cairan bening penuh duka itu tumpah dan membasahi kedua pipinya. Disekanya bulir air duka itu dengan tangan kosongnya, namun bukan malah berhenti justru tambah deras mengalir. “Selamat jalan kawan, semoga lo diterima di sisinya.” Gumam Arif dengan diringi sesenggukan yang kian menjadi-jadi. Ia menangis.

Begitulah jalan hidup. Ada yang baru merasakan kehidupan dunia setelah sembilan bulan berada dikandungan sang Ibu, dan ada pula yang direnggut oleh kematian di waktu dan tempat yang tak bisa diterka-terka. Karena, kematian tak pernah diam, bahkan ia adalah perkara yang pasti terjadi. Kemana pun kita melangkah, kamatian itu akan terus mengejar, meski kita pergi di sebuah tempat yang paling aman sekali pun. Allah yang menciptakan ia juga berhak mengambil ciptaannya kembali, Apa pun itu ciptaannya. Layaknya air sungai yang mengalir, yang pada akhirnya akan berkumpul di sebuah tempat yang bernama lautan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*