PELAJARAN KE EMPAT

Dengan nama Allah SWT segala puji bagiNYA dan selawat pd Muhamad saw dan keluarganya.

Saya telah bahas pd pelajaran sebelumnya lima perkara yg berhubungan dengan wasiat. Di sini saya akan tambahkan beberapa perkara lagi beserta penjelasannya.

6. Apabila mayit ingin menghususkan salah satu warisan dr hartanya, dengan memberikan pada istrinya sebidang rumah. Maka wajib bagi si mayit memberikan pdnya dan menyerahkan/memberikan rumah tersebut pd istrinya di masa hidup si mayit. Dan apabila tidak diberikan pd masa hidupnya maka pemberian tersebut menjadi batal ketika dia sipemberi (suaminya) wafat. Karena disaratkan sahnya pemberian tsb adalah serah terima/menerimanya.

Dan jika istri tdk menerimanya atau tdk ada serah terima, maka rumah tsb setelah wafat suaminya menjadi milik seluruh ahli waris.

Apabila si mayit semasa dia hidup tidak menginginkan seorangpun memiliki salah satu dr warisannya, akan tetapi setelah dia wafat, dengan mengatakan, “bahwa rumah ini akan milik fulan atau fulanah setelah aku wafat”. Maka disini wasiatnya yg efektif/berlaku hanya tinggal sepertiga dan selebihnya wasiat itu bergantung dr izin ahli waris.

7. Selayaknya si mayit mewasiatkan sebagian dr yg dimilikinya sesuatu yg bisa dimanfaatkan utk kepentingan umum seperti, pinjaman bagi mereka yg membutuhkan, mencetak buku2, membantu pelajar yg menuntut ilmu agama, hauzah/pesantren ilmiah dan lain sebagainya yg bermanfaat utk kebaikan.

8. Disana ada beberapa riwayat yg meriwayatkan, bahwa wasiat dibenci jika kurang dr sepertiga.

Riwayat Imam Asshodiq as :”siapa yg berwasiat sepertiga maka ia telah merugi dalam warisannya, dan siapa yg berwasiat seperempat atau seperlima lebih mulia dr wasiat sepertiga, dan jika ada yg berwasiat sepertiga jangan dibiarkan”.

Sebagian para muhaggiq mengatakan, bahwa diperbolehkannya wasiat kurang dr sepertiga, kenapa, karena kebutuhan warisan yg ditinggalkan mayit itu banyak sekali.

9. Apabila sebelumnya mayit memiliki wasiat kemudian ia merubahnya dengan wasiat yg lain, maka otomatis wasiat yg pertama gugur dan wasiat kedua yg sah, dengan sarat wasiat yg pertama memang benar sudah dirubahnya. Atau selayaknya ia mencantumkan tanggal, agar wasiat yg kedua diketahui sehingga tidak terjadi keserupaan atau kesalahan diantara dua wasiat tadi.

(Karena yg diingingkan si pewasiat adalah yg kedua)

10. Selayaknya yg bertanggung jawab menulis wasiat itu adalah seorang pelajar ilmu agama yg khusus dibidang fiqih, agar tidak terjadi kesalahan pd si pewasiat. Sebab sering terjadi kesalahan yg tdk disadari pada sebagian org yg bukan ahli fiqih.

Seperti kesalahan yg banyak dilakukan pd org yg bukan ahli fiqih. Si pewasiat mengatakan :RUMAH FULAN WAQOF SETELAH AKU WAFAT.

Kata kata diatas mengisaratkan, bahwa waqof bergantung pd kematian. Sedangkan masalah waqof dlm fiqih disaratkan tanjiz dan tidak boleh ada ta’liq. Maka kalau ada wasiat seperti ucapan tadi, wasiatnya batal. Dan rumah yg tadi diwasiatkan menjadi hak milik ahli waris bukan waqof.

Seharusnya org yg berwasiat, ketika akan mewaqofkan mengatakan :AKU akan BERWASIAT, BAHWA AKAN MEWAQOFKAN RUMAH INI SETELAH WAFATKU.

Maka kata kata isarat waqof diatas tidak ada kata ketergantungan, bahwa dirinya tidak mewaqofkan setelah kematiaanya.

Alhamdullillahirabbil alamin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*