Sayyid Jamaluddin Asadabadi

Sayyid Jamaluddin Asadabadi

9 Maret 1897, hari syahidnya cendikiawan dan pejuang besar Dunia Islam, Sayid Jamaluddin Asadabadi. Pejuang besar ini dilahirkan di desa Asadabad, Provinsi Hamedan di Iran barat.Sejak kecil ia memiliki kecerdasan tinggi dan potensi besar dalam mempelajari ilmu. Di usianya yang ke 12, ia berangkat ke Najaf dan belajar dari ulama terkenal seperti Sheikh Murtadha Ansari dan Mullah Hussain-Qoli Hamedani. Dalam mempelajari ilmu, Sayid Jamaluddin melampaui teman-temannya dan dalam waktu singkat ia berhasil meraih derajat ijtihad.

 

Atas anjuran Sheikh Ansari, Sayid Jamaluddin kemudian pergi ke India. Di negara tersebut, Sayid Jamaluddin berusaha memobilisasi warga khususnya umat Muslim menentang imperialis Inggris. Tak lama kemudian ia pun pergi ke Afghanistan dan Hijaz. Sewaktu berada di Mesir, Sayid Jamaluddin menjadi sangat terkenal dan mendapat penghormatan besar dari sejumlah pejabat pemerintah. Beliau di negara ini mendapat kesempatan untuk mengajar dan menyebarkan ilmu serta ajaran Islam.

 

Sejumlah cendikiawan dan ulama besar Mesir pernah berguru kepada Sayid Jamaluddin. Sampai-sampai Sheikh Muhammad Abduh, mufti besar negara ini menyebut Sayid Jamaluddin sebagai guru yang bijak dan tak ada duanya. Sayid Jamaluddin memainkan peran penting dalam transformasi politik melawan imperialis di Mesir. Oleh karena itu, ia kemudian diusir dari Mesir atas upaya dan hasutan Inggris yang merasa kepentingannya terancam dengan keberadaan pejuang Islam ini.

 

Kemudian Sayid Jamaluddin pergi ke Paris dan di sana mencetak koran Urwah al-Wustqa dengan menggandeng Sheikh Muhammad Abduh. Melalui koran ini, Sayid Jamaluddin menyebarkan ideologi persatuannya. Lagi-lagi kendala menghadang upaya mujahid muslim ini dan Koran Urwah al-Wustqa hanya mampu terbit hingga edisi ke 18 karena dicekal.

 

Sayid Jamaluddin juga menulis artikel menjawab statemen Ernest Renan, penulis dan cendikiawan Perancis. Artikel ini menunjukkan keluasan dan kedalaman ilmu Sayid Jamaluddin terkait ajaran murni Islam. Selama kehidupannya yang penuh dengan pasang surut, Sayid Jamaluddin kerap mendapat perlakuan kasar dari pemerintah boneka di Dunia Islam. Misalnya di Iran meski ulama dan rakyat menyabut pemikiran Sayid Jamaluddin, namun Nasiruddin Shah, raja Iran mengusirnya karena penantangannya terhadap sistem pemerintahan despotik. Kondisi ini tidak membuat Sayid Jamaluddin putus asa, ia tak kenal lelah melanjutkan pencerahan terhadap sekelompok rakyat dan menebar ideologi konstruktifnya. Pada akhirnya mujahid besar Islam ini gugur syahid di tangan Sultan Abdul Hamid, khalifah Utsmani.

 

Sayid Jamaluddin adalah penyeru persatuan dan kebangkitan umat Islam serta pelopor upaya kembali pada nilai-nilai murni Islam dan memberantas bid’ah yang sesat. Mujahid besar Islam ini gencar menyeru umat Islam untuk menghindari perpecahan di antara mazhab. Oleh karena itu, beliau selama hidupnya senantiasa melakukan perjalanan ke berbagai negara di Asia, Eropa dan Afrika. Yang mendorong Sayid Jamal bangkit memerangi imperialisme dan despotisme adalah pengetahuannya yang mendalam mengenai ajaran Islam yang anti kezaliman dan kesadarannya atas konspirasi imperialis dunia.

 

 

Pengetahuan dan kesadaran tinggi Sayid Jamal ini disertai dengan wawasan dan bukannya dibarengi dengan kejumudan pemikiran atau fanatismenya terhadap satu etnis dan bangsa. Mungkin hal ini yang menyebabkan banyak bangsa seperti Afghanistan dan Arab mengklaim Sayid Jamal dari mereka. Kejeniusan dan potensi besar yang dimilikinya, kekayaan ilmu, retorika yang mengesankan, argumentasi kuat, kefasihan dan keberanian Sayid Jamal, pemimpin penyeru kebebasan yang mampu menanamkan benih-benih kesadaran di antara umat Muslim. Oleh karena itu, dalam satu dekade terakhir, di mana saja terdapat indikasi perlawanan dan gerakan Islam, maka kita juga dapat menyaksikan peran pejuang besar Islam ini.

 

Di era Sayid Jamal, sebagian besar umat Islam menanggung penderitaan besar dan mayoritas wilayah Islam diduduki oleh imperialis dunia seperti Perancis dan Inggris. Kondisi ini muncul akibat rusaknya pemerintahan yang diluarnya menampilkan Islam, pengaruh imperalis dunia dan kebodohan sejumlah rakyat. Menurut Sayid Jamal penderitaan umat Islam disebabkan oleh kekuasaan asing dan kebodohan umat muslim sendiri. Pejuang besar Islam ini menilai obat dari penderitaan tersebut adalah kembali kepada nilai-nilai murni Islam, persatuan di antara umat Muslim, mempelajari teknologi dan ilmu pengetahuan modern serta menyadarkan berbagai bangsa terhadap hak-hak mereka.

 

Dalam sebuah editorial Koran Urwah al-Wustqa, Sayid Jamal menulis tajuk berjudul “Persatuan dan Politik”. Dalam artikelnya ini Sayid Jamal menulis, “Dua masalah yang saling berkaitan erat  dan tidak dapat dipisahkan serta setiap bangsa sangat membutuhkan keduanya demi meraih kehormatan dan keagungan mereka. Dua masalah tersebut adalah persatuan sosial dan independensi. Jika kalian merasakan bahwa sebuah bangsa cenderung menggapai independensi, maka berilah kabar gembira bahwa Allah Swt pasti merealisasikan janjinya untuk memberi kekuasaan kepada mereka. Allah tidak akan menghancurkan satu kaum, kecuali ketika kaum tersebut berpecah belah dan saling mencurigai. Kaum seperti ini nasibnya pasti terhina dan hancur.”

 

Penyakit dan penderitaan masyarakat Islam saat itu yang dianalisa Sayid Jamal, saat ini pun masih tampak. Hal ini memang sangat disayangkan. Pengaruh dan kekuasaan imperialis Barat, despotisme penguasa lokal dan perpecahan di antara mazhab termasuk masalah ini. Konspirasi musuh Islam, kubu arogan dan kesalahpahaman pengikut sejumlah mazhab Islam terkait ajaran di antara mereka termasuk api yang membakar perpecahan. Namun berkat Revolusi Islam Iran dan kepiawaian rahbarnya, gelombang kebangkitan Islam di negara-negara Muslim mulai bermunculan dan berbagai harapan baru pun mulai bersemi.

 

Tak dapat dipungkiri bahwa pengaruh besar ideologi mujahid besar Islam seperti Sayid Jamal dalam berbagai kebangkitan ini sangat besar. Saat ini umat Islam semakin membutuhkan persatuan dan rasa persaudaraan di antara mereka. Dengan kata lain, ketika revolusi Islam di banyak negara Muslim tengah menghadapi ancaman penyelewengan dan perampasan tujuan revolusi mereka, serta mayoritas Muslim di berbagai dunia seperti Palestina, Afrika Tengah, Myanmar dan Suriah menghadapi ancaman genosida di depan mata para pengklaim pendukung Hak Asasi Manusia (HAM), maka persatuan dan wawasan tinggi menjadi keharusan.

 

Allah Swt dalam al-Quran menyeru umat Islam untuk bersatu dan menjauhi perpecahan. Dalam surat aali Imran ayat 103, Allah berfirman yang artinya, “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.”

 

Berpegang teguh dan merujuk kepada al-Quran sebagai kitab suci Muslim merupakan langkah pertama dan terpenting dalam menggalang persatuan di antara umat Islam. Selain itu, mengedepankan sisi persamaan di antara mazhab juga termasuk hal-hal yang berpengaruh dalam menggalang persatuan. Shalat, puasa, haji, zakat dan mayoritas amalan lain merupakan ritual kolektif di antara mazhab Islam.

 

Selain itu, kepercayaan terhadap usuluddin seperti Tauhid, Maad (kepercayaan terhadap hari kiamat) dan kenabian di antara umat Islam tidak ada perbedaan. Namun fanatisme dan esktrimisme sejumlah pengikut mazhab Islam di tambah kebodohan mereka terkait ajaran mazhab lain serta pemerintahan boneka yang meyakini keberlangsungan kekuasaan mereka dengan adanya permusuhan di antara pengikut Islam, membuat api perpecahan di antara umat Islam meletus meski adanya banyak sisi persamaan di antara mereka.

 

Dalam surat An-Nisa’ ayat 94 Allah Swt berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu pergi (berperang) di jalan Allah, maka telitilah dan janganlah kamu mengatakan kepada orang yang mengucapkan “salam” kepadamu: “Kamu bukan seorang mukmin” (lalu kamu membunuhnya), dengan maksud mencari harta benda kehidupan di dunia, karena di sisi Allah ada harta yang banyak. Begitu jugalah keadaan kamu dahulu, lalu Allah menganugerahkan nikmat-Nya atas kamu, maka telitilah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

 

Menurut ayat ini pengakuan lisan, cukup bagi seseorang untuk disebut sebagai muslim. Prinsip nyata al-Quran ini telah menutup upaya pengkafiran seorang muslim atau sebuah mazhab Islam oleh kelompok lain. Pengabaian terhadap prinsip dasar inilah yang membuat Dunia Islam saat ini menghadapi berbagai kesulitan serius. Persatuan Islam bukan berarti semua umat Islam harus mengikuti satu mazhab tertentu. Di bawah perbedaan sejumlah keyakinan dan metodologi di antara berbagai mazhab, toleransi dan penghormatan terhadap keyakinan pihak lain harus semakin tebal. Sehingga umat Islam di bawah kehidupan yang tenang dari penghormatan timbal balik ini mampu menyebarkan agama dan menyelesaikan problematika utama Dunia Islam.(IRIB Indonesia)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*