Imam Ali Zainal Abidin a.s.

Seorang imam yang agung, penghidup agama dan sunah kakeknya. Ia serupa dengan Nabi Isa as. dalam warak dan ketakwaan, dan serupa dengan Nabi Ayyûb as. dalam cobaan dan malapetaka (yang dihadapi). Kewibawaannya membuat seluruh wajah tertunduk di hadapannya. Di wajahnya bersinar cahaya para nabi dan terbersit kewibawaan para washî.

Asy-Syaikhânî Al-Qâdirî menegaskan: “Mata orang yang meman-dang tidak pernah puas untuk melihat cercahan cahaya wajahnya.”[1] Kewibawaan Imam Ali As-Sajjâd menghikayatkan kewibawaan kakeknya, Rasulullah yang agung saw. As-Saffâh Muslim bin ‘Uqbah, sang durjana yang senantiasa meremehkan seluruh nilai insani itu, tercengang lantaran kewibawaan tersebut. Ketika ia melihat Imam As-Sajjâd as., seluruh pesendiannya gemetar dan menyambutnya dengan penuh penghormatan. Orang-orang yang berada di sekitarnya berkomentar: “Sesungguhnya Ali Zainul Abidin adalah manifestasi para nabi.”

Gelar Imam As-Sajjâd

Seluruh gelar terhormat yang dimiliki oleh Imam Ali As-Sajjâd men-cerminkan karakter jiwa dan akhlak mulia yang telah disandangnya. Di samping itu, seluruh gelar itu mengungkapkan betapa ketaatan dan ibadahnya kepada Allah. Sebagian gelar tersebut adalah berikut ini:

1. Zainul Abidin (Hiasan Para ‘Abid)

Gelar ini—seperti telah dijelaskan sebelum ini—dihadiahkan oleh kakek Imam Ali As-Sajjâd as., Rasulullah saw. Imam Ali as. diberi gelar tersebut lantaran ibadahnya yang tak terhitung banyaknya.[2] Gelar ini sangat terkenal dan populer (di tengah masyarakat) sehingga berubah menjadi identik dengan namanya. Tak ada seorang pun yang pernah mendapatkan gelar semacam ini. Dan sungguh ia adalah hiasan bagi setiap ‘abid dan kebanggaan bagi setiap orang yang taat kepada Allah.

2. Sayyidul Abidin (Junjungan Para ‘Abid)

Salah satu gelar Imam Ali As-Sajjâd yang menonjol adalah ‘Sayyidul Abidin’. Hal itu lantaran ketaatannya kepada Allah. Tidak pernah ada riwayat yang menceritakan ibadah seseorang diriwayatkan seperti riwayat yang menggambarkan ibadah imam yang satu ini, selain kakeknya, Imam Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as.

3. Dzuts Tsafanât (Sang Bertapal)

Imam Ali As-Sajjâd as. diberi gelar tersebut lantaran anggota-anggota sujudnya yang mengeras sehingga bertapal seperti lutut unta.[3] Imam Abu Ja‘far Al-Bâqir as. berkata: “Anggota-anggota sujud ayahku memiliki bekas-bekas yang sangat menonjol. Ia selalu memotongnya sebanyak dua kali dalam setahun. Pada setiap kalinya, ia memotong sebanyak lima potong. Oleh karena itu, ia diberi julukan Dzuts Tsafanât.”[4]

Dalam sebuah riwayat juga disebutkan bahwa Imam Ali As-Sajjâd mengumpulkan bekas-bekas sujud tersebut dalam sebuah kantong dan berwasiat supaya kantong itu dikuburkan bersama dirinya.

4. As-Sajjad (Sang Pesujud)

Salah satu lagi gelar Imam Ali yang menonjol dan terkenal adalah ‘As-Sajjâd’.[5] Hal itu lantaran ia selalu melakukan sujud. Ia adalah orang yang paling banyak melakukan sujud dan ketaatan kepada Allah swt. Ketika menceritakan sujud sang ayah yang sangat banyak, Imam Abu Ja‘far Muhammad Al-Bâqir as. berkata: “Ali bin Husain tidak mengingat sebuah nikmat Allah ‘Azza Wajalla kecuali ia melakukan sujud. Ia tidak membaca ayat kitab Allah ‘Azza Wajalla yang mengandung ayat sajdah kecuali ia melakukan sujud. Allah tidak menyelamatkannya dari kejelekan yang dikhawatirkannya kecuali ia melakukan sujud. Ketika usai menger-jakan salat wajib, ia melakukan sujud. Bekas-bekas sujud terdapat di seluruh anggota sujudnya. Oleh karena itu, ia diberi gelar ‘As-Sajjâd’.”[6]

5. Az-Zakiy (Sang Suci)

Imam Ali diberi gelar ‘Az-Zakiy’ lantaran Allah telah menyucikannya dari setiap noda, sebagaimana Dia juga telah menyucikan nenek moyangnya dari setiap jenis noda.

6. Al-Amîn (Yang Terpercaya)

Salah satu gelar Imam Ali As-Sajjâd adalah ‘Al-Amîn’.[7] Ia adalah teladan yang tinggi untuk karakter yang satu ini. Pada sebuah kesempatan, ia pernah berkata: “Seandainya pembunuh ayahku menitipkan kepadaku pedang yang telah ia gunakan untuk membunuhnya, niscaya aku akan menyampaikan amanat itu kepadanya.”

7. Ibn Al-Khairatain (Putra Dua Manusia Terbaik)

Salah satu gelar Imam Ali As-Sajjâd as. adalah ‘Ibn Al-Khairatain’ (putra dua orang terbaik). Ia selalu merasa bangga dengan gelar ini. Ia berkata: “Akulah Ibn Al-Khairatain.” Ucapan ini mengacu pada sabda Rasulullah saw. yang menegaskan: “Allah swt. memiliki dua orang terbaik dari kalangan hamba-hamba-Nya. Hamba-Nya yang terbaik dari kalangan Arab adalah Hâsyim dan dari kalangan bangsa ‘Ajam adalah Fâris.”[8]

Karakteristik Kepribadian

Allah tidak menciptakan sebuah keutamaan atau karunia yang dimiliki oleh seseorang kecuali keutamaan atau karunia itu adalah jati diri Imam Zainul Abidin as. Tak ada seorang pun yang dapat menandinginya dalam hal ini. Seluruh karakter pembentuk jiwanya didominasi oleh adab yang tinggi, akhlak yang mulia, dan kepeduliaan yang sangat tinggi terhadap agama. Tak seorang pun yang membaca sejarah kehidupannya kecuali ia bersimpuh di hadapannya dengan penuh penghormatan dan penga-gungan. Lebih dari itu, rasa takjub akan menguasainya. Ia akan mengang-gap seluruh orang agung di dalam dunia Islam kecil di hadapan seluruh keutamaan Imam Ali As-Sajjâd as. ini.

Sa‘îd bin Mûsâyyib, salah seorang ulama besar Madinah ber-komentar: “Aku tidak pernah melihat orang yang lebih utama daripada Ali bin Husain. Aku tidak melihatnya kecuali aku membenci diriku ….”[9]

Kepribadian Imam Ali As-Sajjâd as. yang tinggi ini telah meng-angkatnya ke atas puncak kemuliaan dan keagungan, suatu kedudukan yang telah digapai oleh nenek moyangnya yang telah dibebani tugas untuk mengadakan perombakan sosial. Pada kesempatan ini, kami akan memaparkan sebagian karakter jiwanya yang mulia.

Kesabaran (Al-Hilm)

Kesabaran adalah salah satu karakter para nabi dan rasul. Karakter ini juga salah satu karakter manusia yang paling agung dan istimewa. Hal itu lantaran ia dapat membantu seseorang untuk menguasai dirinya dan tidak tunduk kepada setiap faktor yang dapat membangkitkan amarah dan dendam. Ketika mendefinisikan kesabaran (al-hilm), Al-Jâhizh menulis: “Kesabaran adalah enggan membalas dendam pada saat amarah memun-cak padahal kita mampu untuk melakukan balas dendam itu.”[10]

Imam Zainul Abidin as. adalah figur manusia yang paling sabar dan paling dapat menahan amarah. Para perawi hadis dan ahli sejarah telah menyebutkan banyak contoh tentang kesabarannya ini. Di antaranya adalah contoh-contoh berikut ini:

  • Imam Ali Zainul Abidin as. pernah memiliki seorang sahaya wanita. Sahaya ini selalu menuangkan air ke atas tangannya ketika ia hendak berwudu sebelum mengerjakan salat. Pada suatu hari, kendi air jatuh dari tangannya menimpa wajah Imam As-Sajjâd dan wajahnya terluka. Sahaya itu segera berkata: “Sesungguhnya Allah ‘Azza Wajalla berfirman, ‘Dan orang-orang yang menahan amarah.’

Imam As-Sajjâd as. bergegas menjawab: “Aku telah menahan amarahku ….”

Sahaya itu mengharapkan kesabaran dan keagungan Imam As-Sajjâd as. Tidak sampai di situ saja, ia meminta tambahan seraya melanjutkan: “Dan orang-orang yang memaafkan manusia.”

Imam Zainul Abidin as. berkata kepadanya dengan penuh kelembutan: “Semoga Allah memaafkanmu … !”

Sahaya itu pun bergegas menimpali: “Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebajikan.”

Imam Zainul Abidin as. menyahutnya dengan kelembutan dan kebajikan yang melimpah: “Pergilah kamu. Kamu sekarang telah merdeka ….”[11]

  • Pada suatu hari, seorang budak yang keji menyambut Imam Zainul Abidin as. dengan cercaan dan celaan tanpa sebab yang jelas. Ia menghadapinya dengan penuh santun seraya berkata: “Wahai pemuda, jalan yang sulit sedang menunggu di hadapan kita. Jika aku berhasil melewatinya, aku tidak akan memperdulikan apa yang telah kamu katakan itu, dan jika aku bingung melewatinya, sungguh aku adalah lebih buruk daripada apa yang kamu katakan itu ….”[12]

Seluruh wujud Imam Zainul Abidin as. telah terfokus kepada Allah dan kedahsyatan dunia akhirat yang tidak akan terselamatkan darinya kecuali orang-orang yang bertakwa. Seluruh celaan dan cercaan yang datang dari jiwa yang tidak beretika dan beradab itu tidak membuatnya sakit hati sedikit pun.

Ketabahan (Ash-Shabr)

Salah satu karakter Imam Ali Zainul Abidin as. adalah ketabahan dalam menghadapi berbagai malapetaka dan cobaan. Tak syak lagi,  tak seorang pun di dunia ini yang pernah mendapatkan cobaan yang telah menimpa imam yang agung ini. Segala macam musibah telah menimpanya sejak ia menginjakkan kaki di dunia ini hingga meninggal dunia. Ia telah harus berpisah dengan ibunda tercinta pada saat ia masih kecil dan belum sempat mengenyam kasih sayangnya. Sejak usia remaja, ia sudah harus menyaksikan kesedihan yang telah menimpa keluarganya yang kehilangan kakeknya, Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as. yang telah dibunuh oleh Abdurrahman bin Muljam.

Di samping itu, Imam Ali As-Sajjâd as. juga harus menyaksikan perdamaian paksa yang telah dilakukan oleh pamannya, Imam Hasan as. dengan sang lalim, Mu‘âwiyah bin Abi Sufyân—simbol cela dan kehinaan dunia Arab dan Islam itu. Ketika Mu‘âwiyah berhasil berkuasa, karakter-karakter Jahiliyah dan kedengkiannya yang dalam terhadap Islam dan Muslimin mulai tampak. Ia mengerahkan seluruh kekuatan negara untuk memusnahkan Islam dari muka bumi. Ia juga mengambil sikap yang sangat keras dalam melawan Ahlul Bait as. Ia mewajibkan supaya mereka dicela di atas mimbar-mimbar dan menara-menara azan. Di samping itu, ia juga membantai para pengikut mereka yang merupakan simbol kesadaran beragama dan berpolitik dalam Islam.

Ketika telah menginjak dewasa, Imam Ali Zainul Abidin as. harus kehilangan pamannya, Imam Hasan as. Imam Hasan as. telah diracun oleh Kisra Arab;[13] Mu‘âwiyah bin Hindun. Peristiwa ini telah mening-galkan kesedihan yang sangat pedih dalam diri Imam as. dan seluruh keluarga Nabi saw.

Salah satu musibah dan cobaan besar yang telah dialami oleh Imam Zainul Abidin as. adalah melihat pedang-pedang terhunus di padang Karbala sedang memanen kepala keluarga Rasulullah saw. dengan cara yang sangat keji, sebuah cara pembantaian yang belum pernah disaksikan oleh sejarah umat manusia. Setelah peristiwa keji yang menimpa para corong keadilan dan kebenaran itu, para lalim Kufah itu mengurung Imam Zainul Abidin as. sembari membakar kemahnya dan kemah-kemah pahlawan wanita keluarga Rasulullah saw., kemudian membawa mereka menghadap sang lalim yang keji, Ibn Marjânah yang lalu me-nyambutnya dengan seribu macam olokan dan cemooh.

Imam Ali Zainul Abidin as. tabah menghadapi semua itu dan menyerahkan seluruh urusan kepada Allah. Setelah peristiwa itu berlalu, ia dibawa dan diseret ke hdapan anak buangan yang lain, yaitu Yazîd bin Mu‘âwiyah. Di tangan sang keji yang satu ini, Imam as. menghadapi cobaan dan petaka lagi yang dapat melelehkan relung hati setiap orang. Ia menghadapi seluruh petaka yang menyakitkan itu dengan penuh pasrah terhadap segala ketentuan Allah. Jiwa manakah yang dapat menyerupai jiwanya dan kalbu manakah yang dapat menyamai kalbunya?! Jiwanya pasrah kepada Sang Pencipta alam semesta dan Dzat penganugerah kehidupan dalam menghadapi seluruh petaka dan kalbunya adalah sebuah kalbu suci yang lebih kokoh dan lebih kuat dari segala sesuatu.

Ketabahan menghadap musibah adalah jiwa agung Imam Zainul Abidin as. Ketika memuji sifat tabah ini, ia pernah menegaskan bahwa ketabahan adalah kepala ketaatan (kepada Allah).[14] Salah satu contoh ketabahannya adalah saat ia mendengar sebuah jeritan dari dalam rumah. Pada waktu itu, ia sedang duduk bersama para sahabat. Ia bangkit untuk melihat apa yang sedang terjadi. Keluarganya memberitahukan bahwa salah seorang putranya telah meninggal dunia. Setelah mendapatkan berita itu, ia kembali menjumpai para sahabat dan memberitahukan apa yang telah terjadi kepada mereka. Para sahabat takjub dengan ketabahan yang ia miliki. Ia berkata kepada mereka: “Kami adalah sebuah keluarga yang menaati Allah atas apa yang kami sukai dan memuji-Nya atas apa yang kami benci.”[15] Ia berpendapat bahwa ketabahan adalah sebuah keuntungan dan mengeluh adalah sebuah kelemahan.[16]

Kepribadian kuat yang dimiliki oleh Imam Zainul Abidin dan tidak terpengaruh oleh peristiwa-peristiwa yang menyakitkan adalah salah satu kepribadian yang paling langka di sepanjang sejarah.

Santun kepada Orang Lain

Salah satu karakter Imam Ali Zainul Abidin as. adalah berbuat kebajikan kepada orang lain. Hatinya penuh oleh rahmat dan kasih sayang kepa-danya. Para ahli sejarah menegaskan bahwa Imam Zainul Abidin as. tidak melihat seseorang menanggung utang, sedangkan ia mencintai orang ter-sebut, kecuali ia pasti akan melunasi seluruh utangnya.[17]

Imam Zainul Abidin as. selalu bergegas untuk memenuhi hajat orang lain supaya ia tidak didahului oleh orang lain sehingga ia harus kehilangan pahala apabila hal itu terjadi. Ia pernah berkata: “Salah seorang musuhku datang kepadaku untuk memohon sebuah hajat. Maka, aku bergegas untuk memenuhinya supaya aku tidak didahului oleh orang lain atau jangan sampai musuhku itu sudah tidak memerlukannya lagi sehingga dengan itu, aku harus kehilangan keutamaannya.”[18]

Kisah berikut ini dapat menggambarkan sampai sejauh mana rasa kasih sayang Imam Zainul Abidin as. kepada orang lain.

Az-Zuhrî meriwayatkan: “Pada suatu hari, aku berada di sisi Ali bin Husain as. Tiba-tiba seorang sahabatnya datang seraya mengadu, ‘Aku memiliki utang sebesar empat ratus dinar dan aku tidak dapat melunasinya. Sedangkan aku sendiri memiliki tanggungan keluarga.’ Pada waktu itu, Imam Zainul Abidin sendiri tidak memiliki sepeser pun uang untuk dapat melunasi utang sahabat tersebut. Sembari menangis ia berkata, ‘Musibah atau petaka manakah yang lebih besar daripada musi-bah dan petaka ini? Seorang merdeka mukmin melihat saudaranya terlilit utang, sementara itu ia tidak mampu melunasi utang saudaranya itu, dan ia melihatnya tertimpa kemiskinan, sementara itu ia tidak dapat mengatasi kemiskinan saudaranya itu?’”[19]

Kedermawanan

Kedermawanan adalah salah satu karakter jiwa Imam Zainul Abidin as. yang lain. Para ahli sejarah sepakat bahwa ia adalah figur manusia yang paling dermawan terhadap orang-orang fakir dan miskin. Mereka telah menukil banyak contoh tentang kedermawanannya ini. Di antaranya be-rikut ini:

Muhammad bin Usâmah pernah menderita penyakit. Imam Zainul Abidin as. menjenguknya. Ketika ia telah duduk, Muhammad bin Usâ-mah menangis terisak-isak.

Imam Zainul Abidin as. bertanya kepadanya: “Apa yang membuat-mu menangis?”

Muhammad bin Usâmah menjawab: “Aku dililit oleh utang.”

Ia bertanya lagi: “Berapa?”

“Lima belas ribu dinar”, jawab Muhammad pendek.

Imam Zainul Abidin as. menimpali: “Aku yang akan melunasinya.”

Sebelum berdiri dari tempat duduknya, Imam Zainul Abidin as. memberikan uang itu kepada Muhammad.[20] Dengan perlakuan ini, Imam Zainul Abidin telah menghilangkan mimpi buruk utang dari tidur Muhammad bin Usâmah.

Undangan Makan Umum

Salah satu manifestasi kedermawanan Imam Ali Zainul Abidin as. adalah ia selalu mengadakan undangan makan umum setiap hari selama masih berada di Yatsrib. Undangan makan umum ini dilaksanakan pada waktu makan siang di rumahnya.[21]

Santunan untuk Seratus Keluarga

Salah satu manifestasi kedermawanan Imam Zainul Abidin as. yang lain adalah ia sering memberikan santunan kepada seratus keluarga di Madi-nah secara diam-diam.[22] Setiap keluarga itu beranggotakan beberapa orang.[23]

Sesungguhnya kedermawanan menunjukkan kesucian jiwa seseo-rang dari kekikiran, rasa belas kasih kepada orang lain, dan rasa syukur kepada Allah lantaran anugerah-Nya.

Kasih Sayang kepada Fakir Miskin

Salah satu karakter jiwa Imam Ali Zainul Abidin as. adalah rasa kasih sayang kepada fakir miskin dan orang-orang yang tertindas. Berikut ini kami akan memaparkan beberapa contoh dari karakternya ini:

1. Memuliakan Orang-Orang Miskin

Imam Zainul Abidin as. selalu bergaul dengan orang-orang fakir miskin. Ia senantiasa menjaga perasaan dan naluri mereka. Jika ia memberikan sebuah pemberian kepada seorang yang meminta, ia membalikkan wajah supaya peminta itu tidak merasa hina.[24] Jika seorang peminta datang menghampirinya, Imam Zainul Abidin as. menyambutnya sembari ber-kata: “Selamat datang atas orang yang siap membawa bekalku menuju dunia akhirat.”[25]

Menghormati kaum fakir miskin dengan cara seperti ini adalah manifestasi kecintaan yang dapat mempererat hubungan antar anggota sebuah masyarakat dan menyebarkan kasih sayang di kalangan mereka.

2. Kecintaan yang Dalam kepada Orang-Orang Fakir

Imam Zainul Abidin as. sangat mencintai orang-orang fakir. Ia sangat senang jika majelisnya dihadiri oleh anak yatim dan orang-orang fakir miskin yang tidak berdaya lagi melawan kehidupan ini. Ia selalu mem-berikan makanan kepada mereka dengan tangannya sendiri.[26] Sebagai-mana juga ia senantiasa memikul bahan makanan atau kayu bakar di atas pundaknya hingga sampai di setiap pintu rumah mereka dan memberikan semua itu kepada mereka.[27]

Rasa kasih sayang dan kecintaan Imam Zainul Abidin as. kepada kaum fakir miskin ini telah sampai pada puncaknya sehingga ia enggan untuk memetik kurma pada malam hari. Hal itu lantaran mereka sudah berada di rumah masing-masing pada waktu itu, dan karena itu mereka tidak akan memperoleh bagian.

Imam Zainul Abidin as. pernah melarang penjaga kebunnya yang sedang memetik kurma pada malam hari. Ia berkata: “Jangan kamu berbuat demikian. Apakah kamu tidak tahu bahwa Rasulullah saw. melarang kita untuk memanen di malam hari? ia senantiasa bersabda: ‘Buntalan hasil panen itu harus kamu berikan kepada orang yang memintanya. Dan itulah haknya pada saat hasil dipanen.’”[28]

3. Larangan Menolak Peminta

Imam Zainul Abidin as. melarang kita menolak orang yang meminta. Hal itu lantaran tindakan ini dapat menyebabkan akibat-akibat buruk. Di antaranya adalah kemusnahan nikmat dan kedatangan malapetaka. Sa‘îd bin Mûsâyyib meriwayatkan: “Pada suatu hari, aku pernah bermalam di rumah Ali bin Husain. Setelah usai mengerjakan salat Shubuh, seorang peminta-minta berdiri di depan pintu rumahnya. Ia berkata: ‘Berikanlah permintaannya dan janganlah kamu tolak dia.’”[29]

Imam Zainul Abidin as. sangat menekankan masalah ini dalam banyak hadis yang pernah diriwayatkan darinya.

Menolak permintaan seorang fakir yang membutuhkan adalah salah satu faktor pemusnah nikmat dan pendatang amarah Allah. Banyak sekali hadis yang telah diriwayatkan dari para imam maksum as. secara mutawâtir tentang masalah ini. Atas dasar ini, barang siapa menghendaki kekekalan nikmat Allah, tidak selayaknya ia menolak permintaan peminta-minta atau mencegah seorang fakir untuk mendapatkan harta yang telah dititipkan kepada dirinya.

Infak dan Sedekah

Perilaku teragung yang sering dilakukan oleh Imam Ali Zainul Abidin as. selama hidup adalah berinfak dan bersedekah kepada orang-orang fakir miskin supaya mereka dapat menjalankan roda kehidupan mereka dan terselamatkan dari kesusahan hidup. Imam as. juga sering menganjurkan kita untuk bersedekah. Hal itu lantaran sedekah memiliki pahala yang tak terhingga. Ia pernah berkata: “Tak seorang pun yang bersedekah kepada seorang miskin yang lemah, dan lalu orang miskin tersebut berdoa untuk-nya pada saat itu juga kecuali doanya pasti dikabulkan.”[30]

Pada kesempatan ini, kami akan memaparkan aneka ragam bentuk sedekah Imam Ali Zainul Abidin as.:

1. Menyedekahkan Pakaian

Imam Ali Zainul Abidin as. selalu mengenakan pakaian yang bagus. Pada saat musim dingin, ia mengenakan pakaian yang berbulu. Ketika musim panas tiba, ia menyedekahkan pakaian tersebut atau menjualnya dan menyedekahkan hasil penjualannya. Pada saat musim panas, ia mengena-kan dua lapis pakaian yang berasal dari Mesir, dan pada saat musim dingin tiba, ia menyedekahkan kedua pakaian tersebut.[31] Ia selalu berkata: “Sesungguhnya aku merasa malu kepada Tuhanku untuk memakan harga pakaian yang telah kugunakan untuk menyembah-Nya.”[32]

2. Menyedekahkan Harta yang Dicintai

Imam Zainul Abidin as. selalu menyedekahkan harta dan barang yang sangat ia cintai. Para perawi hadis menyebutkan bahwa ia selalu menye-dahkan buah badam dan gula. Ketika ditanya tentang alasannya, ia membaca ayat Al-Qur’an:

 

Kamu tidak akan dapat menggapai kebaikan sehingga kamu meng-infakkan apa yang kamu cintai.” (QS. Ali ‘Imrân [3]:92)[33]

 

Para ahli sejarah menulis bahwa Imam Zainul Abidin as. sangat menyu-kai buah anggur. Pada suatu hari, ia sedang berpuasa. Ketika waktu berbuka puasa tiba, sahayanya menyuguhkan setangkai anggur. Tiba-tiba seorang pengemis datang, dan ia memerintahkan supaya anggur tersebut diberikan kepada pengemis itu. Sahaya Imam Zainul Abidin as. menyu-ruh seseorang untuk membeli anggur lagi, dan menyuguhkan anggur itu kepadanya. Tiba-tiba seorang pengemis yang lain mengetuk pintu. Ia pun memerintahkan supaya anggur itu diberikan kepada pengemis itu. Sahaya Imam Zainul Abidin as. menyuruh seseorang untuk membeli anggur lagi, dan menyuguhkan anggur itu kepadanya. Tiba-tiba seorang pengemis ketiga mengetuk pintu. Ia pun memberikan anggur itu kepada pengemis terakhir ini.[34]

Dalam hal ini, Imam Zainul Abidin as. mengikuti jejak para nenek moyangnya. Mereka pernah memberikan makanan kepada orang miskin, anak yatim, dan orang tawanan selama tiga hari berturut-turut, sedangkan mereka dalam kondisi berpuasa. Karena hal ini, Allah menurunkan surah Ad-Dahr berkenaan dengan hak mereka, dan surah ini abadi menjadi lambang kemuliaan bagi mereka di sepanjang masa hingga Allah dan para hamba-Nya mewarisi bumi ini.

3. Membagi Harta

Imam Ali Zainul Abidin as. selalu membagi harta yang ia miliki dalam dua bagian; ia mengambil setengahnya dan menyedekahkan sisanya kepada orang-orang fakir miskin.[35] Dalam hal ini, ia mengikuti jejak pamannya, Imam Hasan as. Imam Hasan as. selalu membagi harta yang ia miliki dalam dua atau tiga bagian.

4. Bersedekah Secara Diam-Diam

Satu hal yang sangat disukai oleh Imam Ali Zainul Abidin as. adalah bersedekah secara diam-diam supaya tidak diketahui oleh orang lain. Dengan itu, ia ingin mengadakan hubungan dengan orang-orang miskin atas dasar semangat kecintaan karena Allah dan mempererat hubungan dengan saudara-saudara seiman yang tidak mampu. Ia selalu mengan-jurkan kita untuk bersedekah secara diam-diam. Ia pernah berpesan: “Sedekah secara diam-diam dapat memadamkan murka Tuhan.”[36]Ia selalu keluar di malam hari yang gelap gulita dan memberikan sedekah kepada orang-orang miskin. Ia selalu menutupi wajahnya dengan kain (supaya tidak dikenal orang). Mereka telah terbiasa menerima kunjungan seperti itu pada malam hari. Oleh karena itu, mereka berdiri di depan pintu rumah mereka sembari menunggu kedatangannya. Ketika mereka melihat ia sedang datang, mereka merasa bahagia seraya berkata: “Pemi-kul karung telah tiba.”[37]

Imam Ali Zainul Abidin as. memiliki seorang saudara sepupu laki-laki. Ia datang menjumpainya pada setiap malam dan memberikan beberapa keping dinar kepadanya. Saudara sepupu itu berkata kepadanya: “Ali bin Husain tidak pernah mengunjungiku.” Ia berdoa supaya Ali bin Husain celaka. Imam Zainul Abidin mendengar semua itu dan tidak memperkenalkan jati dirinya kepadanya. Ketika ia meninggal dunia, saudara sepupu itu tidak pernah lagi menerima sedekah (di malam hari). Akhirnya, ia tahu bahwa orang yang selalu mengujungi dirinya adalah Imam Zainul Abidin as. Untuk itu, ia senantiasa mengunjungi makamnya sembari menangis dan memohon maaf kepadanya.[38]

Ibn ‘Aisyah berkata: “Aku pernah mendengar penduduk Madinah sering berkata, ‘Kami tidak pernah kehilangan sedekah secara diam-diam sehingga Ali bin Husain meninggal dunia.’”[39]

Para ahli sejarah meriwayatkan bahwa penduduk Madinah dapat mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari sedangkan mereka tidak tahu siapa yang telah menjamin kehidupan mereka itu. Ketika Ali bin Husain meninggal dunia, mereka kehilangan pemberian yang selalu mereka terima pada malam hari.[40]

Imam Ali Zainul Abidin as. sangat merahasiakan jati dirinya ketika memberikan sedekah. Jika ia memberikan sebuah sedekah kepada seseo-rang, ia menutupi wajahnya supaya orang itu tidak mengenalnya.[41]

Adz-Dzahabî berkata: “Ia (Imam Ali As-Sajjâd as) selalu bersedekah secara diam-diam.”[42]

Imam Zainul Abidin as. meletekkan makanan yang akan dibagikan-nya kepada orang-orang fakir miskin di dalam sebuah karung dan lantas memikulnya. Karung itu meninggalkan bekas di pundaknya. Al-Ya‘qûbî meriwayatkan bahwa ketika Imam Zainul Abidin as. dimandikan, di pundaknya ditemukan sebuah luka kering yang sudah mengeras seperti kulit lutut unta. Ketika keluarganya ditanya tentang bekas tersebut, mereka menjawab: “Bekas itu lantaran ia selalu memikul makanan pada malam hari dan membagi-bagikannya kepada orang-orang miskin.”[43] Ala kulli hal, sedekah-sedekah yang telah Imam as. berikan secara diam-diam adalah anugerah teragung dan pahala yang sangat besar di sisi Allah.

Keberanian

Salah satu karakter Imam Zainul Abidin as. adalah keberanian. Ia figur manusia yang paling berani. Ia putra Husain, sang cucu Adam yang paling pemberani. Di antara manifestasi keberanian Imam Zainul Abidin as. adalah kisah berikut ini:

 

Ketika Imam Zainul Abidin as. dihadapkan kepada ‘Ubaidillah bin Marjânah sebagai tawanan perang, dia menyambutnya dengan ucapan-ucapan yang mengejek dan mengolok-olok. Imam as. menjawab ejekan dan olok-olokannya itu dengan ucapan berapi-api yang lebih dahsyat dari tebasan pedang dan pecutan cemeti. Ia tidak gentar sedikit pun dengan kekuasaan dan kerajaan yang telah digenggamnya itu. Ibn Marjânah kesal sampai seluruh urat lehernya tegang. Ia memerintahkan supaya Imam as. dibunuh. Akan tetapi, Imam as. tidak gentar sedikit pun dan berkata dengan tenang: “Kami dibunuh adalah suatu hal yang biasa, karena kemuliaan kami di sisi Allah adalah syahadah.”

Setelah itu, Ibn Marjânah mengirim Imam Zainul Abidin as. bersama wanita-wanita keluarga wahyu sebagai tawanan kepada Yazîd bin Mu‘âwiyah. Imam as. menggunakan kesempatan untuk naik ke atas mimbar demi melontarkan sebuah pidato yang memuat kemaslahatan Muslimin, padahal pada waktu itu ia sedang sakit. Yazîd menolak permintaannya. Akan tetapi, penduduk Syam memaksa Yazîd (untuk mengizinkannya berpidato). Mereka bertanya kepada Yazîd: “Apa keistimewaan orang ini?” Yazîd menjawab: “Ia berasal dari sebuah ke-luarga yang telah mengarungi samudera ilmu pengetahuan.” Setelah ber-kata demikian, Yazîd mengizinkannya berpidato.

Imam Ali Zainul Abidin as. melontarkan sebuah pidato yang membuat mata menangis dan hati gemetar. Yazîd pun kebingungan dan kehilangan jejak. Ia tidak menemukan jalan lain untuk menyelematkan diri dari seluruh cela yang telah dibeberkan oleh Imam as. itu kecuali dengan memotong pidatonya. Untuk itu, ia memerintahkan muazin untuk mengumandangkan azan dan memotong pidato Imam as.

Saya tidak pernah menemukan sebuah pidato yang lebih indah dan memukau dari pidato yang telah dilontarkan oleh Imam Zainul Abidin itu. Di dalam pidato itu, Imam as. memperkenalkan kepada penduduk Syam jati diri dan kedudukannya di sisi Rasulullah saw. yang selama ini tidak diketahui oleh mereka. Ia meluruskan tuduhan terhadap Ahlul Bait yang telah disebarluaskan oleh penguasa pada waktu itu bahwa mereka adalah kaum Khawarij yang telah membangkang dan berpisah dari jamaah (Muslimin). Yazîd sang tiran khawatir akan terjadi fitnah dan perubahan opini masyarakat umum yang tidak menguntungkan dirinya. Oleh karena itu, ia bergegas mengusir Imam Zainul Abidin as. beserta kaum wanita keluarga risalah Ilahiah itu dari Syam ke Yatsrib (Madinah).

Imam as. di Madinah

Ketika Imam Zainul Abidin as. telah menetap di Madinah, ia melihat bagaimana penguasa dinasti Bani Umayyah berusaha sekuat tenaga untuk memadamkan pelita syariat Islam. Mereka tidak punya kepedulian sedikit pun terhadap hukum-hukum syariat Islam dan malah mengajak masya-rakat untuk menghidupkan kembali slogan-slogan Jahiliyah dan mema-lingkan mereka dari (ajaran) kitab Allah ‘Azza Wajalla. Melihat itu, Imam as. melakukan peran (aktif dan) positifnya untuk menghidupkan kembali ajaran-ajaran Islam. Imam as. membangun sebuah pusat pembinaan yang mayoritas dihadiri oleh para budak yang telah ia beli dan ia bebaskan. Ia menyampaikan banyak ceramah berkenaan dengan hukum-hukum fiqih Islam, adab-adab syariat, dan lain sebagainya di hadapan mereka. Para ulama juga ikut menghadiri majelis-majelis (ilmiahnya). Mereka mencatat seluruh hukum yang ia sampaikan dan hikmah-hikmah yang ia lontarkan. Layak disebutkan di sini bahwa mayoritas fuqaha yang hidup kala itu adalah alumni pusat pembinaannya itu. Kami telah menyebutkan biografi ringkas mereka dalam buku kami yang berjudul Hayâh Al-Imam Zainul Abidin as.

Imam Zainul Abidin as. memiliki sebuah peninggalan yang sangat berharga di bidang ilmu pengetahuan dan etika yang tak kalah pentingnya dengan pusat pembinaan yang telah ia bangun itu. Harta peninggalan itu adalah doa-doanya yang lebih dikenal dengan sebutan Ash-Shahîfah As-Sajjâdiyah. Para ulama kadang-kadang menyebut kitab doa ini dengan nama “Zabur Keluarga Muhammad”, kadang-kadang juga dengan nama “Injil Keluarga Muhammad”. Mereka meyakini bahwa kitab doa ini menduduki ranking kedua setelah Al-Qur’an dan Nahjul Balâghah. Kitab doa ini sungguh sebuah jalan hidup islami yang sangat sempurna, mata air etika, dan harta simpanan dunia pemikiran islami. Harta warisan ini memiliki tempat yang sangat tinggi dalam lingkungan kehidupan ilmiah (Muslimin). Oleh karena itu, mereka selalu tekun mempelajari dan menulis syarah atasnya. Buku-buku syarah kitab doa ini telah melampaui angka enam puluh.[44]

Di samping itu, kitab doa itu juga telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Prancis, dan Jerman. Para sarjana Barat telah berhasil mendapatkan harta melimpah dalam kitab ini berkenaan dengan prinsip-prinsip pendidikan, etika yang tinggi, metode-metode sulûk, dan hal-hal lain yang berhubungan dengan dunia pemikiran islami.

Ibadah Sang Abid

Muslimin sepakat bahwa Imam Zainul Abidin as. adalah figur manusia yang paling ‘abid dan paling taat kepada Allah swt. Umat manusia tidak pernah melihat orang seperti dia dalam ibadahnya. Orang-orang ber-takwa dan saleh takjub dengan ibadahnya itu. Gelar Zainul Abidin dan Sayyidus Sâjidîn dalam sejarah dunia Islam yang telah diberikan kepadanya sudah cukup untuk membuktikan realita ini.

Ibadah Imam Zainul Abidin as. tidak bersifat ikut-ikutan orang lain. Ibadah ini tumbuh dari keimanannya yang dalam kepada Allah swt., sama seperti pengetahuannya kepada-Nya. Ia tidak menyembah-Nya lantaran rakus akan surga-Nya dan takut akan api neraka-Nya. Ia menyembah-Nya lantaran Dia berhak untuk disembah. Sikapnya ini tidak berbeda dengan sikap junjungan para ‘arif dan pemimpin orang-orang yang bertakwa, Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as. Sang kakek ini menyembah Allah seperti ibadah orang-orang yang merdeka. Jejak ibadah itu diikuti oleh sang cucu, Imam Zainul Abidin as.

Imam as. pernah menegaskan ketulusannya dalam beribadah kepada Allah swt.: “Aku tidak suka jika aku menyembah Allah sementara yang kutuju hanyalah pahala-Nya. Dengan tujuan ini, sungguh aku tidaklah berbeda dengan seorang hamba yang tamak; di kala suka, ia bekerja dan di kala tidak suka, ia diam. Aku juga tidak suka jika aku menyembah-Nya lantaran takut akan siksa-Nya. Dengan tujuan ini, sungguh aku tidaklah berbeda dengan seorang budak yang berhati buruk; ia tidak akan bekerja kalaulah tidak takut (akan hardikan tuannya).”

Sebagian sahabat yang duduk di situ menghadap kepadanya seraya bertanya: “Lalu atas dasar apa Anda menyembah-Nya?”

Imam Zainul Abidin as. menjawab: “Aku menyembah-Nya karena memang Dia pantas untuk itu sebagai pelimpah segala nikmat.”[45]

Ibadah Imam Zainul Abidin as. tumbuh dari pengetahuan yang tidak dicampuri oleh keraguan sedikit pun. Ibadah itu tidak dilahirkan oleh rasa tamak atau takut. Ibadah itu hanya dilahirkan oleh keimanan yang dalam. Ia pernah membicarakan tentang aneka ragam ibadah seraya berkata: “Ada sebagian kaum yang menyembah Allah lantaran rasa takut; inilah ibadah para budak. Ada sebagian kaum yang menyembah Allah karena ingin sesuatu; inilah ibadah kaum pedagang. Namun, ada sebagian kaum yang menyembah Allah hanya karena ingin merebahkan rasa syukur; itulah ibadah orang-orang yang merdeka.”[46]

Demikianlah aneka ragam ibadah (dalam kaca mata Imam Zainul Abidin as). Ibadah yang memiliki timbangan yang paling berat dan paling dicintai oleh Allah adalah ibadah orang-orang yang merdeka yang hanya dilakukan hanya untuk menghaturkan rasa syukur kepada Dzat Pemberi Nikmat Yang Maha Agung, bukan lantaran tamak kepada pahala-Nya dan juga bukan karena takut terhadap siksa-Nya.

Imam Zainul Abidin as. telah menekankan hal ini dalam sebuah hadis yang lain. Ia berkata: “Ibadah orang-orang yang merdeka tidak akan terlaksana kecuali hanya untuk menghaturkan rasa syukur, bukan lantaran takut dan juga bukan karena menginginkan sesuatu.”[47]

Rasa cinta kepada Allah telah melebur menjadi satu dengan kalbu Imam Zainul Abidin as. sehingga rasa ini menjadi unsur utama pem-bentuk jiwanya. Para perawi hadis berkata: “Dalam setiap waktu, ia selalu sibuk dalam ibadah kepada Allah dan taat kepada-Nya.”

Sahaya Imam as. pernah ditanya tentang ibadahnya. Ia malah balik bertanya: “Kuceritakan secara panjang atau singkat?”

“Singkat saja,” balas penanya.

Sahaya itu menjawab: “Di siang hari, aku tidak pernah menyu-guhkan makanan untuknya dan pada malam hari, aku tidak pernah menghamparkan alas tidur untuknya.”[48]

Imam Zainul Abidin as. menjalani hidup ini dengan berpuasa di siang hari dan beribadah di malam hari; kadang-kadang ia sibuk menger-jakan salat dan pada kesempatan yang lain, ia sibuk membagi-bagikan sedekah secara diam-diam.

Tak syak lagi, dalam sejarah orang-orang yang zuhud, tidak pernah ditemukan seorang figur manusia seperti Imam Zainul Abidin as. dalam ketulusan dan ketaatan kepada Allah swt.

Pada kesempatan ini, kami akan memaparkan sebagian sisi ibadah Imam Zainul Abidin as.:

1. Wudu

Wudu adalah cahaya, kesucian dari segala macam dosa, dan mukadimah pertama sebelum mengerjakan salat. Imam Zainul Abidin as. selalu dalam kondisi suci. Para perawi hadis menceritakan kekhusyukannya dalam berwudu. Mereka berkata: “Jika ia ingin berwudu, tubuhnya pucat. Keluarganya pernah bertanya: ‘Apa yang terjadi pada diri Anda ketika Anda hendak berwudu?’ Ia menjawab: ‘Apakah kamu tahu di hadapan siapakah aku sedang berdiri?’”[49]

Imam Ali Zainul Abidin as. memberikan perhatian yang sangat besar terhadap masalah ini. Ia tidak pernah dibantu oleh siapa pun ketika hendak berwudu. Untuk menyediakan air wudu, ia menimba air sendiri dan kemudian menutupinya sebelum berangkat tidur. Ketika bangun tidur di malam hari, ia menggosok gigi dan kemudian berwudu. Setelah usai berwudu, ia mulai mengerjakan salat.[50]

2. Salat

Seperti ditegaskan dalam beberapa hadis, Salat adalah mikraj seorang mukmin dan korban setiap orang yang bertakwa. Salat adalah sebuah keinginan terbesar yang tersimpan dalam diri Imam Zainul Abidin as. Ia menjadikan salat ini sebagai mikraj yang dapat mengangkat jiwanya menuju ke haribaan Allah, Pencipta alam semesta. Apabila ia ingin memulai salat, tubuhnya gemetar. Ia pernah ditanya tentang hal ini. Dalam jawabannya, ia menegaskan: “Tahukah kamu di hadapan siapakah aku sedang berdiri dan dengan siapakah aku sedang bermunajat?”[51]

Pada kesempatan ini, kami akan memaparkan sebagian tindakan yang dilakukan oleh Imam Zainul Abidin as. ketika hendak mengerjakan salat:

a. Menggunakan Minyak Wangi

Apabila ia ingin mengerjakan salat, ia menggunakan minyak wangi di dalam botol yang telah disediakan di tempat salatnya.[52] Bau semerbak minyak misik tercium dari dalam botol itu.

b. Pakaian Salat

Jika ia ingin mengerjakan salat, Imam Zainul Abidin as. memakai pakaian berbulu kasar.[53] Hal ini ia lakukan lantaran ingin menunjukkan kehinaan dirinya di hadapan Sang Maha Pencipta.

c. Khusyuk

Salat Imam Zainul Abidin as. adalah sebuah manifestasi kepasrahan yang sempurna terhadap Allah swt. dan keterputusan dari alam materi. Ia tidak merasakan sesuatu yang berada di sekitarnya. Bahkan, ia tidak merasakan keberadaan dirinya sendiri. Seluruh kalbunya terpaut kepada Allah secara sempurna. Ketika ingin menjelaskan kondisi salatnya ini, para perawi hadis berkata: “Ketika ingin mengerjakan salat, kulitnya berubah warna. Seluruh anggota tubuhnya gemetar lantaran takut kepada Allah. Pada saat berdiri, ia berdiri bak seorang budak yang hina di hadapan tuannya. Ia mengerjakan salat seperti orang yang mengerjakan salat perpisahan uang setelah itu ia tidak akan pernah mengerjakan salat lagi.”

Ketika menceritakan kekhusyukan salat ayahnya, Imam Muhammad Al-Bâqir as. berkata: “Ketika Ali bin Husain berdiri mengerjakan salat, ia berdiri bak sepotong batang kayu yang tidak bergerak sama sekali kecuali bagian-bagian kayu yang digerakkan oleh angin.”[54]

Salah satu manifestasi lain dari kekhusyukan salat Imam Ali Zainul Abidin as. adalah ketika sujud, ia tidak mengangkat kepalanya sehingga keringatnya mengucur[55] atau seakan-akan ia merendam di dalam air lan-taran air matanya yang mengucur deras.[56]

Para perawi hadis meriwayatkan bahwa Abu Hamzah Ats-Tsumâlî pernah melihat Imam Zainul Abidin as. mengerjakan salat. Jubahnya terjatuh dari salah satu bahunya dan ia tidak membenahinya. Abu Hamzah menanyakan hal itu kepadanya, dan ia menjawab: “Celakalah kamu! Tahukah kamu di hadapan siapakah aku tadi berdiri? Sesung-guhnya salat seorang hamba tidak akan diterima kecuali sekadar kon-sentrasi hati yang dimilikinya.”[57]

Keterpautan hatinya kepada Allah pada saat mengerjakan salat sangat kuat. Ketika salah seorang putranya jatuh ke dalam sumur, penduduk Madinah merasa khawatir dan lalu mereka menyelamatkannya. Pada waktu itu, Imam Zainul Abidin as. sedang mengerjakan salat di dalam mihrab dan tidak menyadari apa yang telah terjadi. Seusai salat, Imam as. diberitahu tentang hal itu. Ia hanya berkata: “Aku tidak merasakan apa-apa. Karena, aku tadi sedang bermunajat dengan Tuhan Yang Maha Agung.”[58]

Pada suatu hari, pernah terjadi kebakaran di rumahnya sedangkan Imam as. sedang mengerjakan salat. Ia tidak merasakan hal itu. Ketika usai mengerjakan salat, ia diberitahu apa yang telah terjadi. Ia menjawab: “Api neraka yang maha dahsyat telah membuatku lupa akan api ter-sebut.”[59]

Abdul Karim Al-Qusyairî memiliki sebuah interpretasi untuk realita dahsyat yang senantiasa menyertai Imam Zainul Abidil as. pada saat salat ini. Realita itu terjadi lantaran hati tidak menyadari apa terjadi pada makhluk sekitar, karena panca indera sibuk mengamati apa yang sedang dihadapinya. Kadang kala hati tidak menyadari perasaan dirinya sendiri lantaran ia mengingat pahala atau memikirkan siksa.[60]

d. Salat Seribu Rakaat

Para penulis biografi Imam Zainul Abidin as. sepakat bahwa ia selalu mengerjakan salat sebanyak seribu rakaat dalam siang dan malam.[61] Ia memiliki lima ratus pohon kurma dan mengerjakan salat sebanyak dua rakaat di bawah setiap pohon kurma itu.[62] Karena banyaknya salat yang ia kerjakan, seluruh anggota sujudnya mengeras seperti kulit lutut unta. Setiap bagian yang sudah mengeras itu jatuh pada setiap tahun dan ia mengumpulkannya dalam sebuah kantong. Ketika meninggal dunia, kantong itu dikuburkan juga bersamanya.[63]

e. Mengqadha Salat Sunah

Selama hidup, Imam Zainul Abidin as. tidak pernah meninggalkan salat sunah. Di malam hari, ia senantiasa mengqadha salat sunah siang hari yang tidak sempat ia kerjakan. Ia selalu berwasiat kepada putra-putrinya agar melakukan hal ini. Ia berpesan kepada mereka: “Hai putra-putriku, itu memang tidak wajib bagimu. Akan tetapi, aku ingin jika kamu telah membiasakan diri dengan sebuah kebiasaan baik, hendaknya kamu mela-kukannya secara rutin.”[64]

f. Banyak Bersujud

Kondisi terdekat yang dimiliki oleh seorang hamba kepada Tuhannya—seperti ditegaskan oleh banyak hadis—adalah kondisi sujud. Imam Ali Zainul Abidin as. adalah figur manusia yang banyak melakukan sujud karena tunduk kepada Allah dan merasa hina di hadapan-Nya. Para perawi hadis meriwayatkan bahwa pada suatu harinya pernah keluar menuju ke gurun sahara. Salah seorang budaknya membuntuti ke mana ia pergi. Tiba-tiba ia menemukan Imam Zainul Abidin as. sedang bersujud di atas sebuah batu keras. Budak itu memperhatikan dan menghitung apa yang ia baca dalam sujud itu. Imam Zainul Abidin as. membaca doa berikut ini sebanyak seribu kali:[65]

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ حَقًّا حَقًّا، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ تَعَبُّدًا وَ رِقًّا، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ إِيْمَانًا وَ صِدْقًا

Imam Zainul Abidin as. senantiasa melakukan sujud syukur dan mem-baca bacaan berikut ini sebanyak seratus kali:

 

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ شُكْرًا

Setelah itu, ia membaca doa berikut ini:

يَا ذَا الْمَنِّ الَّذِيْ لاَ يَنْقَطِعُ أَبَدًا، وَلاَ يُحْصِيْهِ غَيْرُهُ عَدَدًا، وَ يَا ذَا الْمَعْرُوْفِ الَّذِيْ لاَ يَنْفَدُ أَبَدًا، يَا كَرِيْمُ يَا كَرِيْمُ

Setelah itu, ia merebahkan diri dan menyebutkan hajatnya.[66]

 

g. Banyak Bertasbih

Imam Zainul Abidin as. senantiasa menyibukkan diri dengan berzikir kepada Allah, bertasbih, dan memuji-Nya. Ia selalu membaca tasbih berikut ini:[67]

سُبْحَانَ مَنْ أَشْرَقَ نُوْرُهُ كُلَّ ظُلْمَةٍ، سُبْحَانَ مَنْ قَدَّرَ بِقُدْرَتِهِ كُلَّ قُدْرَةٍ، سُبْحَانَ مَنِ احْتَجَبَ عَنِ الْعِبَادِ بِطَرَائِقِ نُفُوْسِهِمْ، فَلاَ شَيْءَ يَحْجُبُهُ، سُبْحَانَ اللهِ وَ بِحْمَدِهِ

h. Selalu Mengerjakan Salat Malam

Salah satu salat sunah yang tidak pernah ia tinggalkan adalah salat malam. Ia senantiasa mengerjakannya secara rutin, baik dalam perjalanan atau tidak.[68] Rutinitas ini berlangsung sampai ia meninggal dunia.

i. Doa Setelah Salat Malam

Setelah usai mengerjakan salat malam, Imam Zainul Abidin as. selalu membaca doa berikut ini:[69]

اَللَّهُمَّ يَا ذَا الْمُلْكِ الْمُتَأَبِّدِ بِالْخُلُوْدِ وَ السُّلْطَانِ، الْمُمْتَنِعِ بِغَيْرِ جُنُوْدٍ وَلاَ أَعْوَانٍ، وَ الْعِزِّ الْبَاقِيْ عَلَى مَرِّ الدُّهُوْرِ وَ خَوَالِي الْأَعْوَامِ وَ مَوَاضِي الْأَزْمَانِ وَ الْأَيَّامِ، عَزَّ سُلْطَانُكَ عِزًّا لاَ حَدَّ لَهُ بِأَوَّلِيَّةٍ، وَلاَ مُنْتَهَى لَهُ بِآخِرِيَّةٍ، وَ اسْتَعْلَى مُلْكُكَ عُلُوًّا، سَقَطَتْ الْأَشْيَاءُ دُوْنَ بُلُوْغِ أَمَدِهِ، وَلاَ يَبْلُغُ أَدْنَى مَا اسْتَأْثَرْتَ بِهِ مِنْ ذَلِكَ أَقْصَى نَعْتِ النَّاعِتِيْنَ. ضَلَّتْ فِيْكَ الصِّفَاتُ، وَ تَفَسَّخَتْ دُوْنَكَ النُّعُوْتُ، وَ حَارَتْ فِيْ كِبْرِيَائِكَ لَطَائِفُ الْأَوْهَامِ، كَذَلِكَ أَنْتَ اللهُ الْأَوَّلُ فِي أَوَّلِيَّتِكَ، وَ عَلَى ذَلِكَ أَنْتَ دَائِمٌ لاَ تَزُوْلُ، وَ أَنَا الْعَبْدُ الضَّعِيْفُ عَمَلاً الْجَسِيْمُ أَمَلاً، خَرَجَتْ مِنْ يَدَيَّ أَسْبَابُ الْوَصَلاَتِ إِلاَّ مَا وَصَلَهُ رَحْمَتُكَ، وَ تَقَطَّعَتْ عَنِّيْ عِصَمُ الْآمَالِ إِلاَّ مَا أَنَا مُعْتَصِمٌ بِهِ مِنْ عَفْوِكَ، قَلَّ عِنْدِيْ مَا أَعْتَدُّ بِهِ مِنْ طَاعَتِكَ، وَ كَثُرَ عَلَيَّ مَا أَبُوْءُ بِهِ مِنْ مَعْصِيَتِكَ، وَلَنْ يَضِيْقَ عَلَيْكَ عَفْوٌ عَنْ عَبْدِكَ وَ إِنْ أَسَاءَ، فَاعْفُ عَنِّيْ …

Frase doa ini memuat pengagungan dan pengesaan pada Allah swt. Ia menyebutkan sebagian sifat-sifat-Nya Yang Maha Tinggi. Di antara sifat-sifat itu adalah kekekalan-Nya yang tidak berbatas dan kerajaan-Nya yang maha kuat nan kokoh yang tidak memerlukan dukungan bala tentara dan pendukung. Seluruh sifat (yang kita bayangkan) tidak mampu mengung-kapkan satu sifat-Nya. Maha tinggi Allah setinggi-tinggi-Nya.

Imam Ali Zainul Abidin as. mengungkapkan kehinaan, kekhu-syukan, dan penghambaannya yang mutlak hanya kepada Allah swt. Seluruh harapan dan cita-citanya hanya terpaut kepada-Nya. Ia sungguh hanya berpegang teguh dan pasrah kepada-Nya. Marilah kita simak bersama frase selanjutnya dari doa yang sama:

اَللَّهُمَّ وَقَدْ أَشْرَفَ عَلَى خَفَايَا الْأَعْمَالِ عِلْمُكَ، وَ انْكَشَفَ كُلُّ مَسْتُوْرٍ دُوْنَ خُبْرِكَ، وَلاَ تَنْطَوِيْ عَنْكَ دَقَائِقُ الْأُمُوْرِ، وَلاَ تَعْزُبُ عَنْكَ غُيَّابُ السَّرَائِرِ، وَقَدِ اسْتَحْوَذَ عَلَيَّ عَدُوُّكَ الَّذِي اسْتَنْظَرَكَ لِغَوَايَتِيْ فَأَنْظَرْتَهُ، وَاسْتَمْهَلَكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ لإِضِلاَلِيْ فَأَمْهَلْتَهُ، فَأَوْقَعَنِيْ، وَقَدْ هَرَبْتُ إِلَيْكَ مِنْ صَغَائِرِ ذُنُوْبٍ مُوْبِقَةٍ وَ كَبَائِرِ أَعْمَالٍ مُرْدِيَةٍ، حَتَّى إِذَا قَارَفْتُ مَعْصِيَتَكَ وَ اسْتَوْجَبْتُ بِسُوْءِ سَعْيِيْ سَخَطَكَ فَتَلَ عَنِّيْ عِذَارَ عُذْرِهِ وَ تَلَقَّانِيْ بِكَلِمَةِ كُفْرِهِ وَ تَوَلَّى الْبَرَاءَةَ مِنِّي وَ أَدْبَرَ مُوَلِّيًا عَنِّيْ فَأَصْحَرَنِيْ لِغَضَبِكَ فَرِيْدًا وَ أَخْرَجَنِيْ إِلَى فِنَاءِ نَقِمَتِكَ طَرِيْدًا، لاَ شَفِيْعَ يَشْفَعُ لِيْ إِلَيْكَ وَلاَ خَفِيْرَ يُؤْمِنَنِيْ عَلَيْكَ وَلاَ حِصْنَ يَحْجُبُنِيْ عَنْكَ وَلاَ مَلاَذَ أَلْجَأُ إِلَيْهِ مِنْكَ، فَهَذَا مَقَامُ الْعَائِذِ بِكَ وَ مَحَلُّ الْمُعْتَرِفِ لَكَ، فَلاَ يَضِيْقَنَّ عَنِّيْ فَضْلُكَ وَلاَ يَقْصُرَنَّ دُوْنِيْ عَفْوُكَ وَلاَ أَكُنْ أَخْيَبَ عِبَادِكَ التَّائِبِيْنَ وَلاَ أَقْنَطَ وُفُوْدِكَ الْآمِلِيْنَ، وَ اغْفِرْ لِيْ إِنَّكَ خَيْرُ الْغَافِرِيْنَ …

Pada frase ini, Imam Zainul Abidin as. mengungkapkan kelemahan jiwa manusia menghadapi hawa nafsu dan ketidakmampuannya untuk me-lawan godaan setan terkutuk yang selalu memanfaatkan sifat-sifat buruk yang terdapat di dalam diri manusia itu, seperti rasa tamak, takabur dan lain sebagainya. Setan telah menguasai seluruh diri dan naluri manusia. Dengan ini, setan dapat menjerumuskan manusia ke dalam jurang dosa dan menjauhkannya dari setiap jalan yang dapat mendekatkan dirinya kepada Allah swt. Imam as. memohon perlindungan kepada Allah swt. dari godaan musuh jahat dan pemakar ini. Marilah kita kembali menyi-mak frase  selanjutnya:

اَللَّهُمَّ إِنَّكَ أَمَرْتَنِيْ فَتَرَكْتُ، وَ نَهَيْتَنِيْ فَرَكِبْتُ، وَ سَوَّلَ لِيَ الْخَطَأَ خَاطِرُ السُّوْءِ فَفَرَّطْتُ، وَلاَ أَسْتَشْهِدُ عَلَى صِيَامِيْ نَهَارًا، وَلاَ أَسْتَجِيْرُ بِتَهَجُّدِيْ لَيْلاً، وَلاَ تُثْنِيْ عَلَيَّ بِإِحْيَائِهَا سُنَّةٌ، حَاشَى فُرُوْضِكَ الَّتِيْ مَنْ ضَيَّعَهَا هَلَكَ، وَلَسْتُ أَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِفَضْلِ نَافِلَةٍ مَعَ كَثِيْرِ مَا أَغْفَلْتُ مِنْ وَظَائِفِ فُرُوْضِكَ، وَتَعَدَّيْتُ عَنْ مَقَامَاتِ حُدُوْدِكَ إِلَى حُرُمَاتٍ انْتَهَكْتُهَا وَكَبَائِرِ ذُنُوْبٍ اجْتَرَحْتُهَا، كَانَتْ عَافِيُتُكَ لِيْ مِنْ فَضَائِحِهَا سِتْرًا، وَهَذَا مَقَامُ مَنِ اسْتَحْيَى لِنَفْسِهِ مِنْكَ وَسَخِطَ عَلَيْهَا وَرَضِيَ عَنْكَ، فَتَلَقَّاكَ بِنَفْسٍ خَاشِعَةٍ وَرَقَبَةٍ خَاضِعَةٍ وَظَهْرٍ مُثْقِلٍ مِنَ الْخَطَايَا، وَاقِفًا بَيْنَ الرَّغْبَةِ إِلَيْكَ وَالرَّهْبَةِ مِنْكَ، وَأَنْتَ أَوْلَى مَنْ رَجَاهُ وَأَحَقُّ مَنْ خَشِيَهُ وَاتَّقَاهُ، فَأَعْطِنِيْ يَا رَبِّ مَا رَجَوْتُ وَآمِنِّيْ مَا حَذَرْتُ، وَعُدْ عَلَيَّ بِعَائِدَةِ رَحْمَتِكَ، إِنَّكَ أَكْرَمُ الْمَسْؤُوْلِيْنَ

Imam Zainul Abidin as. memaparkan kehinaan dan kekhusyukannya di hadapan Allah swt. Ia melihat bahwa seluruh amal baik yang telah dilaksanakannya, seperti menghidupkan malam dengan ibadah, berpuasa di siang hari, mengerjakan seluruh salat sunah, menghidupkan kembali sunah-sunah Islam dan lain sebagainya tidak seberapa nilainya di sisi Allah swt. Tobat manakah yang serupa dengan tobat ini? Dan kepas-rahan manakah yang dapat menandingi kepasrahan ini? Sungguh imam Ali Zainul Abidin as. adalah figur yang unggul di dunia orang-orang bertakwa dan saleh. Marilah kita menyimak frase doa selanjutnya berikut ini:

اَللَّهُمَّ وَإِذْ سَتَرْتَنِيْ بِعَفْوِكَ وَتَغَمَّدْتَنِيْ بِفَضْلِكَ فِيْ دَارِ الْفَنَاءِ بِحَضْرَةِ الْأَكْفَاءِ فَأَجِرْنِيْ مِنْ فَضِيْحَاتِ دَارِ الْبَقَاءِ عِنْدَ مَوَاقِفِ الْأَشْهَادِ مِنَ الْمَلاَئِكَةِ الْمُقَرَّبِيْنَ وَالرُّسُلِ الْمُكَرَّمِيْنَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِيْنَ، مِنْ جَارٍ كُنْتُ أُكَاتِمُهُ سَيِّئَاتِيْ وَمِنْ ذِيْ رَحِمٍ كُنْتُ أَحْتَشِمُ مِنْهُ فِيْ سَرِيْرَاتِيْ، لَمْ أَثِقْ بِهِمْ رَبِّ فِي السَّتْرِ عَلَيَّ، وَوَثِقْتُ بِكَ رَبِّ فِي الْمَغْفِرَةِ لِيْ، وَأَنْتَ أَوْلَى مَنِ وُثِقَ بِهِ وَأَعْطَى مَنْ رُغِبَ إِلَيْهِ وَأَرْأَفُ مَنِ اسْتُرْحِمَ، فَارْحَمْنِيْ

Pada frase doa ini, Imam Zainul Abidin as. mengungkapkan kepercayaan dan harapannya yang besar terhadap ampunan dan karunia Allah. Ia memohon kepada-Nya ampunan dan keridhaan di hari akhirat. Ia juga memohon hamparan tirai Allah yang senantiasa dibentangkan bagi para hamba-Nya yang bermaksiat, sebagaimana juga memohon perlindungan dari seluruh cela yang akan terungkap di hari pembalasan di hadapan para saksi yang terdiri dari para malaikat muqarab, rasul, syuhada, dan orang-orang yang saleh. Dengan ungkapan ini, ia telah memberikan pelajaran kepada Muslimin yang telah berbuat maksiat untuk bertobat kepada Allah dengan sungguh-sungguh. Marilah kita menyimak kembali frase doanya selanjutnya berikut ini:

اَللَّهُمَّ وَأَنْتَ حَدَرْتَنِيْ مَاءً مَهِيْنًا مِنْ صُلْبٍ مُتَضَائِقِ الْعِظَامِ حَرِجِ الْمَسَالِكِ إِلَى رَحِمٍ ضَيِّقَةٍ، سَتَرْتَهَا بِالْحُجُبِ، تُصَرِّفُنِيْ حَالاً عَنْ حَالٍ حَتَّى انْتَهَيْتَ بِيْ إِلَى تَمَامِ الصُّوْرَةِ، وَأَثْبَتَّ فِي الْجَوَارِحِ كَمَا نَعَتَّ فِي كِتَابِكَ ﴿نُطْفَةً ثُمَّ عَلَقَةً ثُمَّ مُضْغَةً ثُمُّ عِظَامًا ثُمُّ كَسَوْتَ الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنْشَأْتَنِيْ خَلْقًا آخَرَ كَمَا شِئْتَ﴾، حَتَّى إِذَا احْتَجْتُ إِلَى رِزْقِكَ وَلَمْ أَسْتَغْنِ عَنْ غِيَاثِ فَضْلِكَ جَعَلْتَ لِيْ قُوْتًا مِنْ فَضْلِ طَعَامٍ وَشَرَابٍ أَجْرَيْتَهُ لِأَمَتِكَ الَّتِيْ أَسْكَنْتَنِيْ جَوْفَهَا وَأَوْدَعْتَنِيْ قَرَارَ رَحِمِهَا، وَلَوْ تَكِلُنْيْ يَا رَبِّ فِيْ تِلْكَ الْحَالاَتِ إِلَى حَوْلِي أَوْ تَضْطَرُّنِيْ إِلَى قُوَّتِيْ لَكَانَ الْحَوْلُ عَنِّيْ مُعْتَزِلاً، وَلَكَانَتْ الْقُوَّةُ مِنِّيْ بَعِيْدَةً، فَغَذَوْتَنِيْ بِفَضْلِكَ غِذَاءَ الْبِرِّ اللَّطِيْفِ، تَفْعَلُ ذَلِكَ بِيْ تَطَوُّلاً عَلَيَّ إِلَى غَايَتِيْ هَذِهِ لاَ أَعْدَمُ بِرَّكَ وَلاَ يُبْطِئُ بِيْ حُسْنُ صَنِيْعِكَ، وَلاَ تَتَأَكَّدُ مَعَ ذَلِكَ ثِقَتِيْ فَأَتَفَرَّغُ لِمَا هُوَ أَحْظَى لِيْ عِنْدَكَ، قَدْ مَلَكَ الشَّيْطَانُ عِنَانِيْ فِيْ سُوْءِ الظَّنِّ وَضَعْفِ الْيَقِيْنِ، فَأَنَا أَشْكُوْ سُوْءَ مُجَاوَرَتِهِ لِيْ وَطَاعَةَ نَفْسِيْ لَهُ، وَاَسْتَعْصِمُكَ مِنْ مَلَكَتِهِ، وَأَتَضَرَّعُ إِلَيْكَ فِيْ صَرْفِ كَيْدِهِ عَنِّيْ، وَأَسْأَلُكَ فِيْ أَنْ تُسَهِّلَ إِلَى رِزْقِيْ سَبِيْلاً، فَلَكَ الْحَمْدُ عَلَى ابْتِدَائِكَ بِالنِّعَمِ الْجِسَامِ وَإِلْهَامِكَ الشُّكْرَ عَلَى الْإِحْسَانِ وَالْإِنْعَامِ، فَصَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِهِ، وَسَهِّلْ عَلَيَّ رِزْقِيْ، وَأَنْ تُقَنِّعَنِيْ بِتَقْدِيْرِكَ لِيْ، وَأَنْ تُرْضِيَنِيْ بِحِصَّتِيْ فِيْمَا قَسَمْتَ لِيْ، وَأَنْ تَجْعَلَ مَا ذَهَبَ مِنْ جِسْمِيْ وَعُمْرِيْ فِيْ سَبِيْلِ طَاعَتِكَ، إِنَّكَ خَيْرُ الرَّازِقِيْنَ

Frase-frase doa ini dipenuhi oleh argumentasi yang paling kuat atas keberadaan Sang Pencipta Yang Maha Agung. Argumentasi tersebut adalah bahwa Allah menciptakan manusia dari setetes air yang hina. Setelah itu, Dia meletakkannya di dalam sebuah rahim seorang wanita yang sangat sempit. Kemudian, Dia mengembangkannya dari satu kon-disi ke kondisi yang lain hingga manusia itu sampai pada batas kesempur-naannya. Manusia ini adalah salah satu makhluk Allah yang paling agung. Hal itu lantaran makhluk ini memiliki unsur-unsur yang sangat menak-jubkan, seperti unsur berpikir, melihat, mendengar, dan lain sebagainya. Itu semua bukti atas keberadaan Sang Pencipta Yang Maha Bijaksana.

Doa Imam Zainul Abidin as. ini sebenarnya terilhami oleh ayat Al-Qur’an. Dalam sebuah ayat, Al-Qur’an memaparkan perkembangan penciptaan manusia. Layak disebutkan di sini adalah Al-Qur’an telah memaparkan tata cara penciptaan janin manusia dengan sangat teliti dan memberitahukan hal itu kepada umat manusia.

Sayyid Quthub menulis: “Seseorang pasti takjub menyimak pemaparan Al-Qur’an tentang hakikat penciptaan janin manusia. Hakikat ini tidak pernah tersingkap secara mendetail, kecuali akhir-akhir ini setelah cabang ilmu pengetahuan embriologi berkembang pesat. Hal itu lantaran sel-sel tulang berbeda dengan sel-sel daging. Telah terbukti (secara medis) bahwa sel-sel tulang adalah sel-sel pertama yang membentuk seorang janin. Tidak satu pun sel daging yang terbentuk melainkan setelah sel-sel tulang itu terbentuk terlebih dahulu dan seluruh bentuk tulang seorang janin telah terbentuk secara sempurna. Realita ini adalah hakikat yang telah disingkapkan oleh Al-Qur’an ….”[70]

Ala kulli hal, setelah Imam Zainul Abidin as. memaparkan nikmat Allah yang sangat besar itu, ia memohon kepada-Nya supaya menye-lamatkan dirinya dari godaan setan. Karena, setan ini adalah musuh pertama manusia. Marilah kita simak frase terakhir doanya berikut ini:

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ نَارٍ تَغَلَّظْتَ بِهَا عَلَى مَنْ عَصَاكَ، وَتَوَعَّدْتَ بِهَا مَنْ صَدَفَ عَنْ رِضَاكَ، وَمِنْ نَارٍ نُوْرُهَا ظُلْمَةٌ وَهَيِّنُهَا أَلِيْمٌ وَبَعِيْدُهَا قَرِيْبٌ، وَمِنْ نَارٍ يَأْكُلُ بَعْضَهَا بَعْضٌ، وَيَصُوْلُ بَعْضُهَا عَلَى بَعْضٍ، وَمِنْ نَارٍ تَذَرُ الْعِظَامَ رَمِيْمًا، وَتَسْقِيْ أَهْلَهَا حَمِيْمًا، وَمِنْ نَارٍ لاَ تُبْقِيْ عَلَى مَنْ تَضَرَّعَ إِلَيْهَا، وَلاَ تَرْحَمُ مَنِ اسْتَعْطَفُهَا، وَلاَ تَقْدِرُ عَلَى التَّخْفِيْفِ عَمَّنْ خَشَعَ لَهَا وَاسْتَسْلَمَ إِلَيْهَا، تُلْقِيْ سُكَّانَهَا بِأَحَرِّ مَا لَدَيْهَا مِنْ أَلِيْمِ النَّكَالِ وَشَدِيْدِ الْوَبَالِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَقَارِبِهَا الْفَاغِرَةِ أَفْوَاهَهَا، وَحَيَّاتِهَا الصَّالِقَةِ بِأَنْيَابِهَا، وَشَرَابِهَا الَّذِيْ يَقْطَعُ أَمْعَاءَ وَأَفْئِدَةَ سُكَّانِهَا، وَيَنْزِعُ قُلُوْبَهُمْ، وَأَسْتَهْدِيْكَ لِمَا بَاعَدَ مِنْهَا وَأَخَّرَ عَنْهَا، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِهِ، وَأَجِرْنِيْ مِنْهَا بِفَضْلِ رَحْمَتِكِ، وَأَقِلْنِيْ عَثْرَتِيْ بِحُسْنِ إِقَالَتِكَ، وَلاَ تَخْذُلْنِيْ يَا خَيْرَ الْمُجِيْرِيْنَ، اَللَّهُمَّ إِنَّكَ تَقِي الْكَرِيْهَةَ، وَتُعْطِي الْحَسَنَةِ، وَتَفْعَلُ مَا تُرِيْدُ وَأَنْتَ عَلَى كُلِّ شَيْئٍ قَدِيْرٌ، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِهِ، إِذَا ذُكِرَ الْأَبْرَارُ، وَصَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِهِ مَا اخْتَلَفَ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ، صَلاَةً لاَ يَنْقَطِعُ مَدَدُهَا، وَلاَ يُحْصَى عَدَدُهَا، صَلاَةً تَشْحَنُ الْهَوَاءَ، وَتَمْلَأُ الْأَرْضَ وَالسَّمَاءَ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ حَتَّى يَرْضَى، وَصَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ بَعْدَ الرِّضَى، صَلاَةً لاَ حَدَّ لَهَا وَلاَ مُنْتَهَى، يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

Frase-frase doa ini menggambarkan kondisi neraka Jahanam yang sangat menakutkan, neraka Jahanam yang telah disediakan oleh Allah untuk hamba-hamba-Nya yang durjana dan zalim. Yaitu, mereka yang mene-barkan kelaliman dan kerusakan di muka bumi ini. Mereka akan merasa-kan berbagai ragam azab dan siksa yang sangat mengerikan. Semoga Allah menghindarkan kita darinya.

Dengan ini, usailah pemaparan doa mulia yang selalu dilantunkan oleh Imam Zainul Abidin as. seusai mengerjakan salat malam. Doa ini adalah salah satu doa andalan Ahlul Bait as.

Keluarga Imam Zainul Abidin as. merasa khawatir dan takut atas diri dan kehidupannya lantaran terlalu banyak ibadah yang selalu ia lakukan dengan melampaui batas. Oleh karena itu, mereka bergegas menjumpai Jâbir bin Abdillah Al-Anshârî, lantaran Jâbir memiliki kedudukan yang istimewa di sisinya. Fathimah, salah seorang putri Imam Zainul Abidin as., berkata kepada Jâbir: “Hai sahabat Rasulullah, sesungguhnya kami memiliki hak-hak atasmu. Di antara hak-hak tersebut adalah jika salah seorang di antara kami sedang memusnahkan dirinya, hendaknya kamu mengingatkannya supaya ia ingat kepada Allah dan mengajaknya untuk memperhatikan dirinya. Kamu lihat Ali bin Husain, putra semata wayang Al-Husain. Hidungnya telah bengkak dan dahi, kedua lutut, dan kedua telapak tangannya telah mengeras. Hal itu lantaran ia selalu melakukan ibadah.”

Jâbir pun bergegas pergi untuk menjumpai Imam Zainul Abidin as. Ia menemukannya sedang berada di dalam mihrab sedang disibukkan oleh ibadah. Ketika Imam as. melihat ia datang, ia menyambutnya dengan penuh kehangatan dan penghormatan. Ia mendudukkan Jâbir di sampingnya sembari menanyakan kondisinya. Jâbir menolah ke arahnya seraya berkata dengan penuh sopan: “Wahai putra Rasulullah, bukankah Anda tahu bahwa surga telah diciptakan untuk Anda dan untuk orang-orang yang mencintai Anda, serta menciptakan neraka untuk orang-orang yang membenci dan memusuhi Anda. Jika demikian, mengapa Anda masih melakukan ibadah mati-matian?”

Imam Zainul Abidin as. menjawab: “Hai sahabat Rasulullah, bukan-kah kamu tahu bahwa Rasulullah saw. telah diampuni dosa-dosanya, baik yang lalu maupun yang akan datang, tetapi ia tidak pernah meninggalkan seluruh usaha untuk mendekatkan diri kepada-Nya dan melakukan ibadah—demi ayah dan ibuku—sehingga betis dan telapak kaki ia beng-kak? Pada suatu hari, ia pernah ditanya, ‘Apakah Anda masih melakukan ini semua sedangkan Allah telah mengampuni dosa-dosa Anda, baik yang telah lalu maupun yang akan datang?’ Ia menjawab, ‘Tidakkah aku layak menjadi seorang hamba yang bersyukur?’

Ketika Jâbir merasa ucapannya itu sudah tidak dapat mempengaruhi pendirian Imam Zainul Abidin as., ia berkata lagi: “Wahai putra Rasu-lullah, paling tidak Anda perhatikan diri Anda sendiri. Karena, Anda berasal dari sebuah keluarga yang dengan mereka malapetaka ditang-guhkan, seluruh obat penawar tersingkap, dan langit mengucurkan air hujan.”

Imam Zainul Abidin as. menjawab dengan suara lirih dan menye-dihkan: “Aku akan senantiasa mengikuti jejak kedua ayahku sehingga aku menjumpai mereka.”

Jâbir takjub (dengan pendiriannya itu). Ia menoleh kepada orang-orang yang hadir di sekitarnya seraya berkata: “Di antara keturunan para nabi, tidak ada orang yang seperti Ali bin Husain, kecuali Yusuf bin Ya‘qûb. Demi Allah, keturunan Husain adalah lebih utama daripada keturunan Yusuf bin Ya‘qûb. Dari keturunan Husain ini, akan muncul seseorang yang akan memenuhi bumi ini dengan keadilan sebagaimana telah dipenuhi oleh kezaliman.”[71]

Ya! Demi Allah, di antara keturunan para nabi, tidak ada seorang pun yang menyamai Imam Ali bin Husain dalam warak, ketakwaan, dan karakter-karakter mulia yang lain. Seperti diberitahukan oleh Jâbir, salah seorang keturunan Husain as. akan muncul untuk memenuhi bumi ini dengan keadilan setelah dipenuhi oleh kezaliman. Dialah Imam Mahdî afs., sebagaimana pernah diberitahukan oleh Rasulullah saw.

Salah seorang putra Imam Zainul Abidin as. merasa khawatir akan ibadah yang selalu dilakukannya secara berlebih-lebihan. Ia bertanya: “Wahai ayahku, mengapa Anda selalu mengerjakan salat?”

Imam Zainul Abidin as. menjawab dengan penuh kasih sayang: “Aku ingin menghaturkan kecintaanku kepada Tuhanku.”[72]

Abdul Malik bin Marwân pernah merasa takjub dengan ibadah Imam Zainul Abidin as. yang banyak tak terhingga itu. Hal itu terjadi ketika Abdul Malik datang menjumpainya untuk membebaskan sekelompok muslimin yang telah ditangkap oleh bala tentaranya. Ketika Abdul Malik melihatnya, ia merasa takjub dengan bekas sujud yang terdapat di antara kedua matanya. Ia berkata: “Sungguh jelas bahwa kamu adalah ahli ibadah dan Allah telah menganugerahkan karunia kepadamu. Kamu adalah penggalan tubuh Rasulullah. Nasabmu dengan ia sangatlah dekat dan hubunganmu dengan ia sangatlah kuat. Sungguh kamu memiliki keutamaan yang sangat agung terhadap keluarga dan masyarakat di masamu. Kamu telah diberi anugerah keutamaan, ilmu, agama, dan warak yang tidak pernah diberikan kepada orang lain yang hidup semasa denganmu dan tidak juga kepada orang-orang sebelummu, kecuali kepa-da nenek moyangmu.”

Abdul Malik terus menyebutkan keutamaan dan karunia agung yang dimiliki Imam Zainul Abidin as. Ketika ucapannya usai, Imam as. hanya berkata: “Seluruh keutamaan yang telah kamu sebutkan itu hanya berasal dari anugerah Allah swt., pengukuhan, dan taufik-Nya. Lalu, manakah syukur atas seluruh nikmat ini? Rasulullah saw. senantiasa mengerjakan salat sehingga kedua telapak kakinya bengkak dan berpuasa sehingga mulutnya kering. Ia pernah ditanya: ‘Wahai Rasulullah, bukankah Allah telah mengampuni dosa-dosa Anda, baik yang telah lalu maupun yang akan datang?’ Ia hanya menjawab: ‘Tidakkah aku layak menjadi seorang hamba yang bersyukur?’ Segala puji bagi Allah atas segala karunia dan malapetaka yang telah ditimpakan-Nya, serta segala puji bagi-Nya di dunia dan akhirat. Demi Allah, seandainya seluruh anggota tubuhku terpotong-potong dan kedua kelopak mataku jatuh keluar (lantaran banyak melakukan ibadah), niscaya aku belum dapat mensyukuri seper-dua puluh nikmat dari seluruh nikmat-Nya; nikmat-nikmat yang tidak dapat dihitung oleh para penghitung dan tak seorang pun dapat mensyu-kuri satu nikmat pun, meskipun ditambah dengan seluruh puji yang telah dihaturkan para pemuji. Tidak, demi Allah! Aku ingin Allah melihatku tidak disibukkan oleh suatu apapun untuk mensyukuri dan mengingat-Nya, baik di siang hari maupun di malam hari, secara rahasia maupun secara terang-terangan. Seandainya bukan karena hak-hak yang harus kulaksanakan untuk keluargaku dan seluruh masyarakat sesuai dengan kemampuan yang kumiliki, niscaya telah kulempar mataku ke langit dan hatiku kepada Allah, lalu aku tidak akan pernah mengambilnya kembali hingga Allah memungut jiwaku. Dan Dia adalah sebaik-baik penguasa (langit dan bumi).”

Lantas, Imam Zainul Abidin as. menangis terisak-isak. Ucapan dan kondisi (spiritual)nya itu telah mempengaruhi hati sang lalim, Abdul Malik sehingga mengatakan: “Sangatlah berbeda seorang hamba yang hanya mengharapkan akhirat dan mengerahkan seluruh usaha yang dimiliki untuk menggapainya dengan hamba yang hanya menginginkan dunia, sedangkan ia tidak memiliki bagian di akhirat.”

Abdul Malik pun tunduk terhadap seluruh titah Imam Zainul Abidin as. dan bersedia membebaskan sekelompok Muslimin (yang telah ditang-kapnya) tersebut.[73]

Begitulah, ibadah Imam Ali Zainul Abidin as. menjadi simbol spiri-tualitas para nabi as. yang sangat indah nan menakjubkan. Ibadah ini menuturkan ketaatan, ketakwaan dan keteguhannya berpegang teguh pada Allah swt. Ia sangat dalam mencintai-Nya dan sangat tulus meng-hamba kepada-Nya.

Bersama Budak-Budak

Salah satu perilaku Imam Zainul Abidin as. yang layak mendapatkan pujian adalah pembebasan para budak dan anugerah kehidupan yang merdeka kepada mereka. Padahal, para budak itu hidup bahagia di bawah naungannya dan ia memperlakukan mereka sebagaimana layaknya anak-anaknya sendiri. Ia selalu memaafkan setiap kesalahan yang telah mereka lakukan. Ketika bulan Ramadhan tiba, ia membebaskan seluruh budak yang ia miliki.

Menurut sebuah riwayat, Imam Zainul Abidin as. tidak pernah menghukum budak laki-laki maupun budak wanita yang telah melakukan kesala-han. Ia hanya menulis hari di mana mereka berbuat kesalahan. Jika akhir bulan Ramadhan tiba, ia mengumpulkan seluruh budak itu dan menunjukkan buku catatan dosa-dosa mereka itu. Kepada mereka ia mengatakan: “Ucapkanlah dengan suara lantang, ‘Hai Ali bin Husain, sesungguhnya Tuhanmu telah menghitung seluruh tindakan yang pernah kamu lakukan, sebagaimana kamu telah menghitung seluruh tindakan yang pernah kami lakukan. Di sisi-Nya terdapat sebuah kitab yang mencatat segala sesuatu dengan cermat. Kitab ini sedikit pun tidak meninggalkan setiap bentuk perbuatan, baik yang kecil maupun yang besar, kecuali ia pasti menghitungnya. Setiap jiwa akan mendapatkan setiap kelakuannya hadir di hadapan-Nya, sebagaimana kami telah mendapatkan setiap kelakuan kami hadir di hadapanmu. Oleh karena itu, maafkan dan berlapang dadalah pada kami sebagaimana kamu mengha-rapkan ampunan dari Sang Raja Diraja dan kamu menginginkan supaya Dia mengampunimu. Maka, ampunilah kami, niscaya Tuhanmu akan memaafkanmu, mengasihanimu dan mengampunimu, sedang Tuhanmu tidak akan pernah menzalimi siapa pun. Sebagaimana juga kamu memiliki sebuah kitab yang mencatat segala tindakan yang telah kami lakukan dengan benar. Kitab itu tidak meninggalkan segala apapun yang telah kami lakukan, baik yang kecil maupun yang besar. Oleh karena itu, ingatlah, hai Ali bin Husain, kedudukanmu yang hina di hadapan Tuhanmu Yang Maha Bijaksana nan Adil; Tuhan yang tidak pernah menzalimi sebiji atom pun dan Dia pasti mendatangkannya pada Hari Kiamat. Cukuplah Allah sebagai penghitung dan saksi. Maka, maafkan dan berlapang dadalah terhadap kami, niscaya Sang Raja Diraja akan mengampunimu. Dia berfirman,

 

‘Hendaknya mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin Allah mengampunimu?’” (QS. An-Nûr [24]:22)

 

Imam Ali Zainul Abidin as. mendiktekan ucapan-ucapan tersebut kepada mereka; ucapan-ucapan yang menuturkan kepasrahan dan keteguhannya memegang tali Allah. Ia mendiktekan semua itu sambil menangis lantaran takut kepada-Nya sembari berseru lirih: “Wahai Tuhan kami, Engkau telah memerintahkan kami untuk memaafkan orang yang telah menzalimi kami. Kami telah menzalimi diri kami sendiri. Kami telah memaafkan orang yang telah menzalimi kami, seperti telah Engkau perintahkan. Oleh karena itu, ampunilah kami, karena Engkau lebih utama untuk itu daripada kami sendiri dan seluruh hamba yang telah mendapatkan perintah itu. Engkau telah memerintahkan supaya kami tidak menolak peminta yang datang mengetuk pintu rumah kami. Kini kami datang kepada-Mu dengan membawa penuh permohonan. Dan kini kami telah bersimpuh di haribaan-Mu dan di depan pintu-Mu. Kami memohon anugerah dan karunia-Mu. Maka curahkanlah anugerah atas kami dan janganlah Engkau sia-siakan kami, karena Engkau lebih utama untuk itu daripada kami sendiri dan daripada seluruh hamba yang telah menda-patkan perintah itu. Ya Tuhanku, Engkaulah pemilik karunia. Maka curahkanlah karunia kepadaku ketika aku memohon kepada-Mu. Dan Engkaulah penebar anugerah, maka masukkanlah kami ke dalam golo-ngan penerima karunia-Mu, wahai Dzat Pemberi karunia.”

Setelah berkata demikian, Imam Zainal Abidin as. menghadap ke arah mereka dengan wajah yang dibasahi oleh air mata. Ia berkata dengan penuh santun dan lemah lembut: “Aku telah memaafkanmu sekalian. Apakah kamu juga telah memaafkanku? Jika aku pernah berbuat kesalahan, akulah pemilik kesalahan yang zalim dan hamba Sang Raja Diraja Yang Maha Pemurah, Adil, nan Pemberi karunia.”

Jiwa malaikat agung apakah yang mengungkapkan spiritualitas dan karakter para nabi ini?

Para budak itu pun berkata: “Kami telah memaafkan Anda, wahai junjungan kami.”

Lalu, Imam as. berkata kepada mereka: “Ucapkanlah, ‘Ya Allah, ampunilah Ali bin Husain, sebagaimana ia telah memaafkan kami dan bebaskanlah ia dari api neraka, sebagaimana ia telah membebaskan kami dari perbudakan.’”

Setelah mereka mengucapkan itu, Imam as. melanjutkan: “Ya Allah, Tuhan semesta alam, Amîn! Pergilah kamu semua. Aku telah memaafkan dan membebaskanmu dari kebudakan, karena aku berharap Allah mengampuni dan membebaskanku (dari api neraka).” Ketika hari raya Idul Fitri tiba, ia memberikan hadiah yang berlimpah kepada mereka sehingga mereka tidak perlu meminta-minta lagi dan merasa kecukupan.[74]

Di dalam dunia kaum bertakwa dan orang-orang saleh tidak pernah ditemukan seorang manusia pun seperti imam yang agung ini, baik dalam warak, ketakwaan, maupun ketaatan kepada Allah swt. Ia telah meme-nuhi seluruh relung kalbunya dengan keimanan dan pengetahuan (yang sempurna) terhadap Allah.

Wasiat kepada Anak Keturunan

Imam Ali Zainul Abidin as. telah membekali putra putrinya dengan wasiat-wasiat yang penuh dengan pendidikan. Seluruh wasiat itu adalah hasil pengalamannya dalam menjalani kehidupan ini dan dapat mereka jadikan sebagai konsep dan prinsip hidup. Berikut ini adalah sebagian wasiatnya tersebut:

  • Wasiat ini telah ia berikan kepada sebagian anak-anaknya. Di dalam wasiat tersebut, ia memaparkan masalah sahabat dan teman. Ia menekankan kepada mereka supaya menjauhi seluruh tipe sahabat yang memiliki karakateristik buruk supaya karakteristik ini tidak menular kepada teman-temannya. Ia berkata: “Hai anak-anakku, camkanlah lima jenis manusia ini dan janganlah kamu mengadakan persahabatan dan berbicara dengan mereka di jalan.”

Anaknya bertanya: “Siapakah mereka itu?”

Imam Ali Zainul Abidin as. menjawab: “Janganlah kamu ber-sahabat dengan pembohong, karena ia bak fatamorgana. Ia akan mendekatkan kepadamu sesuatu yang jauh dan menjauhkan darimu sesuatu yang dekat. Janganlah kamu bersahabat dengan orang fasik, karena ia akan rela menjualmu dengan harga sesuap nasi atau lebih sedikit dari itu. Janganlah kamu bersahabat dengan orang kikir, karena ia akan menutupi hartanya pada saat engkau sangat mem-butuhkannya. Janganlah kamu bersahabat dengan orang yang tolol, karena ia akan mendatangkan kerugian bagimu pada saat ia ingin mendatangkan manfaat bagimu. Dan janganlah kamu bersahabat dengan pemutus tali silaturahmi, karena aku mendapatkannya orang yang terlaknat di dalam kitab Allah.”[75]

Bersahabat dengan mereka dapat mendatangkan kerugian dan kecelakaan, serta bahaya. Alangkah banyaknya tipe orang-orang seperti ini, baik di zaman dahulu maupun pada masa sekarang ini. Sebaliknya, alangkah langkanya orang-orang suci dan bersih yang bersahabat dengan mereka dapat mendatangkan manfaat.

  • Satu lagi wasiat Imam as. kepada anak-anaknya adalah berikut ini: “Wahai anak-anakku, bersabarlah menghadapi malapetaka dan janganlah menginjak-injak hak-hak (orang lain), serta janganlah ka-mu menerima ajakan saudaramu untuk mengerjakan sesuatu yang bahayanya lebih besar terhadap dirimu daripada manfaatnya.”[76]

Imam Zainul Abidin as. berwasiat kepada anaknya untuk bersabar meng-hadapi malapetaka yang sedang dihadapi dan tidak terhanyut oleh arusnya, karena hal ini dapat mengokohkan jiwa dan mental. Di samping itu, ia juga berwasiat kepadanya untuk tidak menginjak-injak hak-hak orang lain, karena hal itu lebih dapat menjamin keselamatan seseorang dari permusuhan dan pembalasan orang itu. Tidak lupa, ia juga berwasiat kepadanya untuk tidak menerima ajakan seorang sahabat untuk mela-kukan sesuatu yang dapat mendatangkan kerugian dan bahaya.

Doa untuk Anak Keturunan

Doa Imam Ali Zainul Abidin as. untuk anak-anaknya menggambarkan keagungan dan kemuliaan yang tiada tara. Seluruh doa itu mengung-kapkan tata caranya menghadapi mereka dan ketinggian adab atau akhlak mulia yang ia harapkan untuk mereka.

Marilah kita simak bersama peninggalan metode pendidikan Islam yang sangat tinggi nan agung ini.

Imam Zainul Abidin as. berkata: “Wahai anak-anakku, sesungguhnya Allah tidak meridaimu untukku. Maka, Dia mewasiatkanmu kepadaku. Dan Dia meridaiku untukmu. Maka, Dia memberikan peringatan kepada-ku tentang dirimu. Ketahuilah, sebaik-baik seorang ayah untuk anak-anaknya adalah ayah yang tidak dipengaruhi oleh rasa cinta dalam mencintai anaknya secara berlebihan. Dan sebaik-baik anak untuk seo-rang ayah adalah anak yang kesalahan orang tuanya tidak membuat ia durhaka terhadap ayahnya.”[77]

Frase-frase ucapan Imam Zainul Abidin as. ini memesankan sampai di mana tata cara mendidik anak-anaknya. Metode pendidikannya berdiri di atas asas pembenahan yang universal dan menyeluruh, serta penyucian jiwa secara mutlak. Ia selalu berdoa untuk mereka berikut ini:

  • Supaya Allah menganugerahkan kesehatan tubuh, agama, dan akhlak yang sempurna kepada mereka.
  • Supaya Allah menyehatkan jiwa dan roh mereka, yaitu dengan cara menyucikan jiwa tersebut dari segala kehinaan dan dosa.
  • Supaya Allah melapangkan rezeki-Nya dan tidak menimpakan pahitnya kemiskinan kepada mereka, karena kemiskinan adalah sebuah bencana yang sangat menyedihkan.
  • Supaya Allah menganugerahkan petunjuk kepada mereka untuk menggapai keridhaan-Nya sehingga mereka bergegas mengerjakan kebaikan dan melaksanakan segala perintah-Nya.
  • Supaya Allah mencintakan para wali-Nya dan membencikan para musuh-Nya kepada mereka.
  • Semua itu adalah faktor-faktor yang dapat mengokohkan keharmonisan dan keserasian sebuah keluarga. Jika seorang anak telah terdidik dengan prinsip etika yang tinggi semacam ini, pasti ia menjadi buah mata ayah-nya.Hikmah dan Ajaran

    Imam Ali Zainul Abidin as. telah memaparkan banyak hikmah berharga dan ajaran-ajaran yang sangat mulia. Semua itu muncul dari pengeta-huannya yang sempurna dan dalam terhadap realita kehidupan, unsur-unsur sosialnya, dan kondisi masyarakat manusia. Berikut ini sebagian hadisnya berkenaan dengan hal ini:

     

    Karakteristik yang Tinggi

    Imam Zainul Abidin as. pernah memaparkan sebagian karakter tinggi yang harus dimiliki oleh seorang muslim dan dapat menyempurnakan keislamannya. Ia berkata: “Barang siapa yang memiliki empat hal ini, niscaya Islamnya telah sempurna, dosa-dosanya akan dihapus, dan ia akan berjumpa dengan Tuhannya sedangkan Dia ridha padanya: orang yang menepati janjinya kepada orang lain karena Allah, orang yang lidahnya jujur terhadap orang lain, orang yang merasa malu terhadap segala keburukan, baik di hadapan Allah maupun di hadapan manusia, dan orang yang beretika baik terhadap keluarganya.”[78]

Orang yang telah memiliki karakter-karakter ini adalah mukmin sejati; imannya telah sempurna dan ia akan berjumpa dengan Allah, sedangkan Dia rida terhadapnya.

Tanda-Tanda Orang Mukmin

Imam Ali Zainul Abidin as. pernah berkata: “Tanda-tanda seorang muk-min adalah lima hal.”

Thâwûs Al-Yamânî bertanya: “Wahai putra Rasulullah, apakah tanda-tanda itu?”

Imam Zainul Abidin as. menjawab: “Warak ketika sendirian, berse-dekah pada saat kekurangan, sabar menghadapi musibah, tabah pada saat marah, dan bersedekah pada saat takut.”[79]

Kelima karakter ini menunjukkan bahwa penyandangnya adalah orang mukmin dan termasuk hamba Allah yang hatinya dipenuhi oleh ketakwaan.

Tutur Kata yang Baik

Imam Ali Zainul Abidin as. senantiasa mengajak para sahabatnya untuk bertutur kata yang baik terhadap orang lain, dan ia menjelaskan manfaat-manfaat tutur kata yang baik itu. Ia berkata: “Tutur kata yang baik dapat mendatangkan harta, melapangkan rezeki, menunda ajal, membawa kecintaan kepada keluarga, dan memasukkan (kita) ke dalam surga ….”[80]

Pesan Imam as. di atas menjelaskan manfaat-manfaat tutur kata yang baik. Di antaranya adalah berikut ini:

o       Tutur kata yang baik dapat menyebabkan harta mengalir dan rezeki lapang. Hal itu nampak jelas bagi para ahli bisnis dan pedagang. Masyarakat hanya akan melakukan transaksi jual beli dengan pedagang yang menghadapi mereka dengan tutur kata dan ucapan yang baik. Dan sangat lumrah sekali bahwa tutur kata yang baik ini pasti dapat mendatangkan pendapatan yang melimpah bagi peda-gang itu. Sebaliknya, naluri masyarakat sangat membenci orang yang bertutur kata buruk dan berakhlak jelek; suatu tindakan yang dapat menyebabkan barang dagangannya tidak laku dan rezekinya terbendung.

  • Tutur kata yang baik dapat menunda ajal. Hal ini terjadi pada saat ia menyingkirkan sebuah kezaliman dari wajah seorang mukmin atau mendatangkan manfaat baginya. Oleh karena itu, Allah pasti mem-balas pemilik tutur kata yang baik itu dengan menambah usianya di dunia dan menganugerahkan pahala yang besar di akhirat.
  • Tutur kata yang baik dapat menjadikan penuturnya dimuliakan dan dicintai oleh keluarga dan masyarakat. Hal itu lantaran setiap naluri akan memihak kepada orang yang memiliki tutur kata yang baik.
  • Tutur kata yang baik dapat menyebabkan kita masuk surga. Sebab, tutur kata yang baik dapat mendamaikan dua saudara yang sedang bertengkar dan melakukan amar makruh dan nahi mungkar.

Penyelamat Mukmin

Ketika menuturkan hal-hal yang dapat menyelamatkan seorang mukmin, Imam Ali Zainul Abidin as. berkata: “Ada tiga hal yang dapat menye-lamatkan seorang mukmin: menahan lisan dari membicarakan dan menggunjing orang lain, menyibukkan diri dengan sesuatu yang ber-manfaat bagi dunia dan akhiratnya, dan menangis panjang (menyesali) kesalahannya.”[81]

Syahadah

Begitulah Imam Ali Zainul Abidin as. adalah seorang figur yang tak ada duanya dalam sulûk, ibadah, dan seluruh perbuatan baik. Ia telah berhasil menempati lubuk hati dan naluri masyarakat luas. Mereka sangat menga-gungkannya. Realita ini sangat pahit bagi Bani Umayyah yang hati mereka telah dipenuhi oleh rasa iri dengki terhadap Ahlul Bait as. Salah seorang yang sangat dengki terhadapnya adalah Walîd bin Abdul Malik. Az-Zuhrî meriwayatkan bahwa Walîd pernah berkata: “Aku tidak pernah tenang selama Ali bin Husain masih hidup di dunia ini.”[82]

Ketika berhasil memegang tampuk kekuasaan, Walîd bin Abdul Malik mengambil keputusan untuk membunuhnya. Oleh karena itu, dia membubuhkan racun mematikan ke dalam makanannya melalui peran-tara gubernurnya di Madinah.[83] Ketika Imam Zainul Abidin as. memakan makanan tersebut, tidak lama ia bertahan dan ajal pun datang menjem-putnya, karena tubuhnya sudah lemah karena banyak beribadah. Ucapan terakhir yang ia ucapkan adalah: “Segala puji bagi Allah yang telah membenarkan janji-Nya untuk kita dan mewariskan surga kepada kita. Kita bertempat tinggal di dalamnya di manapun kita kehendaki. Semua itu adalah sebaik-baik pahala bagi orang-orang yang beramal saleh.”[84]

Roh Imam Zainul Abidin as. yang agung meninggal dunia yang fana ini menuju surga yang abadi setelah berhasil menerangi cakrawala dunia ini.

Salam atasnya pada hari ia dilahirkan, pada hari ia meneguk cawan syahadah, dan pada hari ia dibangkitkan hidup kembali.![]


    1. Ash-Shirâth As-Sawî fi Manâqib Âl An-Nabi saw.: hal. 192.Tahdzîb At-Tahdzîb: Jil. 7/306; Syadzarât Adz-Dzahab: Jil. 1/104. Dalam buku ini ditegas-kan: “Imam Ali disebut Zainul Abidin lantaran ibadahnya yang sangat banyak.”Shubh Al-A‘syâ: Jil. 1/452; Bahr Al-Ansâb: hal. 25; Tuhfah Ar-Râghib: hal. 13; Al-Adhdâd fi Kalâm Al-‘Arab: Jil. 1/129; Tsimâr Al-Qulûb: hal. 291. Di dalam buku ini ditegaskan: “Ali bin Husain dan Ali bin Abdillah bin Abbas masing-masing mendapatkan julukan Dzuts Tsafanât  lantaran anggota-anggota sujud mereka mengeras seperti lutut unta saking banyaknya salat mereka.”‘Ilal Asy-Syarâ’i‘, hal. 88; Bihâr Al-Anwâr, Jil. 46/6; Wasâ’il Asy-Syi‘ah, Jil. 4/ 977.Ibid‘, hal. 88.
    2. 1.  Wasâ’il Asy-Syi‘ah: Jil. 4/ 977; ‘Ilal Asy-Syarâ’i‘: hal. 88.
    3. Al-Fushûl Al-Muhimmah: Ibn Ash-Shabbagh, hal. 187; Bahr Al-Ansâb: hal. 25; Nûr Al-Abshâr: hal. 137.Al-Kâmil: Al-Mubarrad, Jil. 1/ 222; Wafayât Al-A‘yân: Jil. 2/ 429.Târîkh Al-Ya‘qûbî: Jil. 3/46.Tahdzîb Al-Akhlâq: hal. 19.Târîkh Dimasyq: Jil. 36/155; Nihâyah Al-Arab: Jil. 21/326. Ayat ini terdapat di dalam surah Ali ‘Imran: yaitu ayat 134.Bihâr Al-Anwâr: Jil. 46/96.Kisra Arab adalah sebutan yang diberikan Khalifah Kedua kepada Mu‘âwiyah.Al-Imam Zainul Abidin: Al-Muqarram, hal. 19.Hilyah Al-Awliyâ’: Jil. 3/138.Ad-Durr An-Nazhîm: hal. 173.
    4. Al-Imam Zaid: Abu Zuhrah, hal. 34.Nâsikh At-Tawârîkh: Jil. 1/13.Amâlî Ash-Shadûq: hal. 453.Al-Bidâyah wa An-Nihâyah: Jil. 9/105; Siyar A‘lâm An-Nubalâ’: Jil. 4/239; Târîkh Al-Islam: Jil. 2, hal. 266; Al-Hilyah: Jil. 3/141.Târîkh Al-Ya‘qûbî: Jil. 3/6.Tahdzîb Al-Lughât wa Al-Asmâ’: hal. 343.Bihâr Al-Anwâr: Jil. 46/88.Al-Hilyah: Jil. 3/137.Shafwah Ah-Shafwah: Jil. 2/53.Bihâr Al-Anwâr: Jil. 46/62.
    5. Ibid: Jil. 46: hal. 62. Mirip dengan kandungan riwayat tersebut adalah riwayat yang terdapat dalam Dâ’irah Al-Ma‘ârif: Al-Bustânî, Jil. 9/355.Wasâ’il Asy-Syi‘ah: Jil. 6/138.Al-Kâfî: Jil. 4/15.Wasâ’il Asy-Syi‘ah: Jil. 6/296.Târîkh Dimasyq: Jil. 36/161.Nâsikh At-Tawârîkh: Jil. 1/67.Bihâr Al-Anwâr: Jil. 46/89.Al-Mahâsin: Al-Barqi, hal. 547; Furû‘ Al-Kâfî: Jil. 6/350.Khulâshah Tahdzîb Al-Kamâl: hal. 231; Al-Hilyah: Jil. 3/140; Jamharah Al-Awliyâ’: Jil. 2/71; Al-Bidâyah wa An-Nihâyah: Jil. 9/105; Ath-Thabaqât: Ibn Sa‘d, Jil. 5/19.
    6. 2.  Tadzkirah Al-Huffâzh: Jil. 1/75; Akhbâr Ad-Duwal: hal. 110; Nihâyah Al-Arab fi Funûn Al-Adab: Jil. 21/326.
    7. Bihâr Al-Anwâr: Jil. 46/89.Ibid: hal. 100.Shifah Ash-Shafwah: Jil. 2/54; Al-Ithâf bi Hubb Al-Asyrâf: hal. 49.Al-Aghânî: Jil. 15/326.Bihâr Al-Anwâr: Jil. 46/62.Ibid.Târîkh Al-Ya‘qûbî: Jil. 3/45.Adz-Dzarî‘ah fi Tashânîf Asy-Syi‘ah: Jil. 15/18.Tafsir Al-’Askarî: hal. 132.
    8. 2.  Shifah Ash-Shafwah: Jil. 2/53; Syadzarât Adz-Dzahab: Jil. 1/105; Al-Hilyah: Jil. 3/134; Al-Bidâyah wa An-Nihâyah: Jil. 9/105; Durar Al-Abkâr: hal. 70.
    9. Al-Kawâkib Ad-Durriyah: Jil. 2/139.Al-Khishâl: hal. 488.Durar Al-Abkâr: hal. 70; Nihâyah Al-Arab: Jil. 21/326; Siyar A‘lâm An-Nubalâ’: Jil. 4/238; Al-Ithâf bi Hubb Al-Asyrâf: hal. 49; Akhbâr Ad-Duwal: hal. 109.Shifah Ash-Shafwah: Jil. 2/53.Wasîlah Al-Ma’âl: hal. 207; Siyar A‘lâm An-Nubalâ’: Jil. 4/38; Shifah Ash-Shafwah: Jil. 2/52; Hilyah Al-Awliyâ’: Jil. 3/132; Al-‘Iqd Al-Farîd: Jil. 3/103.Bihâr Al-Anwâr: Jil. 46/58.Ibid: hal. 108.Wasâ’il Asy-Syi‘ah: Jil. 4/685.Tahdzîb Al-Ahkâm: Jil. 2/286; Bihâr Al-Anwâr: Jil. 46/79.Bihâr Al-Anwâr: Jil. 46/108.
    10. 1.  ‘Ilal Asy-Syarâ’i‘: hal. 88; Bihâr Al-Anwâr: Jil. 46/61; Wasâ’il Asy-Syi‘ah: Jil. 4/688.Akhbâr Ad-Duwal: hal. 110; Bihâr Al-Anwâr: Jil. 46/99.Shifah Ash-Shafwah: Jil. 2/52; Al-Muntazhim: Jil. 6/141; Nihâyah Al-Arab: Jil. 21/325; Siyar A‘lâm An-Nubalâ’: Jil. 4/238.Ar-Risâlah Al-Qusyairiyah: Jil. 1/214.Tahdzîb At-Tahdzîb: Jil. 7/307; Nûr Al-Abshâr: hal. 136; Al-Ithâf bi Hubb Al-Asyrâf: hal. 49; Tadzkirah Al-Huffâzh: Jil. 1/71; Syadzarât Adz-Dzahab: Jil. 1/104; Al-Fushûl Al-Muhimmah: hal. 188; Akhbâr Ad-Duwal: hal. 110; Târîkh Dimasyq: Jil. 36/151; Ash-Shirâth As-Sawi: hal. 193; Iqâmah Al-Hujjah: hal. 171; Al-‘Ibar fi Khabar Man Ghabar: Jil. 1/111; Dâ’irah Al-Ma‘ârif:  Al-Bustani, Jil. 9/355; Târîkh Al-Ya‘qûbî: Jil. 3/45; Al-Muntazhim: Jil. 6/143; Târîkh Al-Islam:  Adz-Dzahabî; Al-Kawâkib Ad-Durriyah: Jil. 2/131; Al-Bidâyah wa An-Nihâyah: Jil. 9/105.Bihâr Al-Anwâr: Jil. 46/61; Al-Khishâl: hal. 487.Al-Khishâl: hal. 488.Shifah Ash-Shafwah: Jil. 2/53.Wasâ’il Asy-Syi‘ah: Jil. 4/981.Ibid: hal. 1079.
    11. Ad-Da‘awât: Quthb Ar-Râwandi, hal. 34.Shifah Ash-Shafwah: Jil. 2/ 53; Kasyf Al-Ghummah: Jil. 2/263.Ash-Shahîfah As-Sajjâdiyah: doa ke-32.Fî Zhilâl Al-Qur’an: Sayyid Quthub, Jil. 17/16.Hayâh Al-Imam Ali bin Al-Husain as.:Jil. 1/200-201.Bihâr Al-Anwâr: Jil. 46/91.Hayâh Al-Imam Ali Zainul Abidin as.: Jil. 1/201-202.Ibid: hal. 209-211.Tuhaf Al-’Uqûl: hal. 279; Al-Bidâyah wa An-Nihâyah: Jil. 9/106.Al-Bayân wa At-Tibyân: Jil. 2/76; Al-‘Iqd Al-Farîd: Jil. 3/88.Al-‘Iqd Al-Farîd: Jil. 3/89.Al-Khishâl: hal. 203.Ibid: hal. 245.Wasâ’il Asy-Syi‘ah: Jil. 5/531; Al-Khishâl: hal. 289.Ad-Durr An-Nazhîm: hal. 174.Hayâh Al-Imam Muhammad Al-Baqir as.: Jil. 1/51.Nûr Al-Abshâr: hal. 129; Al-Fushûl Al-Muhimmah: Ibn Al-Bustânî, hal. 233; Al-Ithâf bi Hubb Al-Asyrâf: hal. 52; Ash-Shawâ‘iq Al-Muhriqah: hal. 53; Jadwal Al-Mishbâh: Al-Kaf‘amî, hal. 276.
    12. 2.  Al-Khishâl: hal. 185; Al-Amâlî: hal. 161.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*